23/01/2026
Pasar Domestik Bukan Sekadar "Plan B", Tapi Pondasi Utama Industri Seafood Indonesia
Seringkali, narasi industri akuakultur kita terlalu berat menitikberatkan pada volatilitas pasar ekspor. Padahal, data menunjukkan "raksasa" yang sebenarnya ada di meja makan kita sendiri.
Berdasarkan data Shrimp Outlook 2025 by JALA & BPS (2023), realita konsumsi protein Indonesia sangat menarik :
Dominasi Volume: Konsumsi ikan & udang mencapai 41,25 kg/kapita/tahun. Dalam perbandingan head-to-head mingguan, konsumsi seafood segar (0,352 kg) mencapai 2x lipat lebih tinggi dibandingkan daging ayam (0,158 kg).
Share of Wallet (Daya Beli): Masyarakat urban memprioritaskan budget belanja makanannya untuk seafood (Rp 60.965/bulan), mengalahkan gabungan telur & susu maupun daging merah. Ini membuktikan bahwa konsumen kita memiliki value perception yang tinggi terhadap produk perikanan.
Peluang 2026: Efisiensi adalah Kunci. Pasar domestik adalah bantalan strategis (buffer) saat pasar global sedang terkoreksi. Tantangannya bukan pada "ada yang beli atau tidak", melainkan pada struktur biaya.
Jika kita bisa melakukan efisiensi di hulu (tambak/budidaya) dan merapikan rantai dingin distribusi, pasar lokal siap menyerap output produksi dengan harga yang kompetitif namun tetap profitable.
Industri seafood Indonesia tidak kekurangan pasar — yang dibutuhkan adalah strategi biaya yang tepat.