KISAH Inspiratif DUNIA

KISAH Inspiratif DUNIA Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from KISAH Inspiratif DUNIA, Grocers, Tambelangan, Sampang, Jawa Rimur, Sampang.

Ketika Para Kyai Lirboyo Melarang Santrinya Menumpas Simpatisan PK1Di masa-masa awal Pondok Pesantren Lirboyo, selain ma...
07/06/2026

Ketika Para Kyai Lirboyo Melarang Santrinya Menumpas Simpatisan PK1

Di masa-masa awal Pondok Pesantren Lirboyo, selain masyarakatnya yang terkenal kurang bermoral, Desa Lirboyo juga merupakan salah satu sarang besar bermukimnya orang-orang berpaham Komunis. Maka tidak heran bila dalam perjalanannya, para kyai Lirboyo dan para santri seringkali mengalami gangguan-gangguan dari masyarakat sekitarnya. Dengan alasan itu p**a Kyai Soleh Banjarmelati, mertua dari Mbah Abdul Karim, memerintahkan putranya, Kyai Ya’qub untuk menemani sang kakak ipar berdakwah di Desa Lirboyo.

Sudah masyhur pada masanya, bahwa PKI terkenal dengan kebrutalannya kepada para kyai dan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Tidak terkecuali di Desa Lirboyo, gangguan dan cacian terhadap para kyai, santri dan masyarakat sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Dalam Buku Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo, KH. Solahuddin Rifa’i, Penasehat HIMASAL Jombang, menuturkan bahwa dulu sewaktu masih menjadi santri, pernah saat menghafalkan pelajaran di perkebunan pondok, beliau didatangi orang desa lalu diolok-olok dan dicaci maki habis-habisan.

Beliau juga menuturkan bahwa pernah suatu ketika mendengar suara tembakan dari ndalem Kyai Marzuqi. Ternyata, menurut salah satu santri yang menyaksikan langsung, tembakan-tembakan itu dilakukan oleh orang tak dikenal (menurut penjelasan Kyai Thahir, penembak adalah anggota KKO, semacam prajurit PKI) kepada Kyai Marzuqi yang sedang mengaji. Namun untungnya, tidak ada satu pun peluru yang menembus beliau.

KH. Thahir Marzuqi juga menuturkan dalam buku Pesantren Lirboyo: Sejarah, Fenomena, Peristiwa dan Legenda, suatu kali oknum PKI pernah menjarah sawah milik dzurriyyah (sanak) Lirboyo, namun pada akhirnya dikembalikan lagi setelah ada perlawanan dari para santri untuk mengambil alih kembali sawah-sawah tersebut.

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dalam buku yang sama menuturkan bahwa pada tahun 1965, PKI pernah menggali lubang-lubang sumur yang akan digunakan sebagai tempat pembuangan mayat. Sebab mereka berencana akan membunuh para kyai yang ada di Lirboyo. Tapi, Alhamdulillah, rencana mereka bisa digagalkan sehingga tidak ada kyai dan santri yang terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Ulah PKI yang bertebaran di Desa Lirboyo memang meresahkan warga. Kebrutalan dan kekejaman mereka sudah sampai pada titik merugikan bahkan mengancam nyawa orang lain. Namun yang menarik, sedemikian parah gangguan dan teror yang PKI sekitar lancarkan, tidak lantas membuat para kyai dan santri Lirboyo bergerak untuk menumpas mereka.

Ketika para pemuda Ansor memasuki Lirboyo dengan tujuan menumpas para PKI yang sering berulah itu, Mbah Mahrus malah melarangnya. Beliau justru memasrahkan urusan penumpasan PKI di Lirboyo kepada para tentara saja. Padahal di tempat-tempat lain, pemuda Ansor selalu berada di garda terdepan untuk melawan tindakan-tindakan komunis.

Tidak hanya itu, bahkan menurut KH. Thahir Marzuqi, santri-santri yang ketahuan bentrok dengan penganut paham komunis, setelah sampai pondok mereka malah dihukum oleh Mbah Marzuqi.

Mengapa demikian? Dalam Buku Pesantren Lirboyo: Sejarah, Fenomena, Peristiwa dan Legenda, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menuturkan, “Memang benar jika pondok Lirboyo itu di kelilingi komplek PKI, tapi orang-orangnya sudah diamanatkan tidak boleh dibunuh meski pada waktu itu banyak dari mereka yang mengganggu para santri. Akan tetapi, PKI diamankan (tidak diapa-apakan, pen.) oleh para kyai, sebab para kyai di Lirboyo masih mengharapkan keislaman dari putra-putrinya. Di samping itu, hal ini juga sangat berguna dalam menjalin keharmonisan hubungan pondok pesantren dengan masyarakat Lirboyo.”

Dari ungkapan itulah bisa dipahami bahwa kyai-kyai NU tidak lantas membunuhi para PKI atau simpatisannya. Kyai-kyai NU di Lirboyo lebih memilih untuk menaubatkan anak-anaknya, membimbing orang-orang PKI dan anak-anaknya untuk masuk dan menjadi bagian dari umat Islam. Kyai-kyai NU memilih untuk menaubatkan orang-orang komunis itu daripada mencerca atau menumpasnya. Persis sebagaimana teladan Nabi Muhammad SAW ketika dilempari batu dan disakiti oleh masyarakat Thaif, justru didoakan semoga keturunan mereka kelak ada yang menganut Islam.

Kagem Masyayikh Lirboyo wa Dzurriyatihim lahumul fatihah...

24/05/2026
KISAH NYATA SEORANG PREMAN TERMINAL JADI ANGGOTA KOPASSUS   DI sudut Terminal Semarang yang hiruk-pikuk pada era 1980-an...
24/05/2026

KISAH NYATA SEORANG PREMAN TERMINAL JADI ANGGOTA KOPASSUS



DI sudut Terminal Semarang yang hiruk-pikuk pada era 1980-an, seorang pemuda berambut gondrong dengan kaos singlet lusuh dan sepatu boots hitam kerap terlihat duduk di antara deru bus dan teriakan kernet. Wajahnya garang, tatapannya tajam, dan hidupnya akrab dengan kerasnya jalanan. Pemuda itu bernama Untung Pranoto.

Di terminal, Untung dikenal sebagai preman. Hidupnya dihabiskan bersama anak-anak jalanan, menjaga bus, menarik pungutan, dan berkelahi demi mempertahankan harga diri. Banyak orang memandangnya sebelah mata. Masa depannya dianggap gelap.

Namun di balik penampilannya yang sangar, Untung menyimpan kegelisahan. Ia sadar, hidup di jalanan tidak akan membawanya ke mana-mana. Ia tidak ingin selamanya dicap sebagai preman. Ia ingin mengubah nasib keluarganya dan menjadi seseorang yang dihormati.

Keinginan itu semakin kuat ketika ia melihat ibunya yang hidup sederhana. Restu sang ibu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Dengan modal nekat, Untung memberanikan diri mendaftar menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Saat pertama datang ke tempat pendaftaran, penampilannya justru membuat petugas terkejut. Rambut gondrong, pakaian sembarangan, dan gaya khas preman terminal membuatnya dianggap tidak serius.

Ia bahkan sempat diusir. Bagi banyak orang, penolakan itu mungkin cukup untuk membuat mereka menyerah. Tapi tidak bagi Untung. Ia p**ang dengan tekad yang justru semakin besar. Rambut gondrongnya dipotong pendek. Penampilannya diubah total. Ia kembali datang mendaftar dengan wajah baru dan semangat baru.

Namun perjuangannya belum selesai. Dua kali ia gagal lolos seleksi. Meski begitu, Untung tidak menyerah. Dalam sebuah wawancara yang kemudian terkenal, ia pernah berkata:

“Kalau saya tidak menjadi TNI, saya akan menjadi bajingan.”

Kalimat itu bukan ancaman, melainkan pengakuan jujur tentang persimpangan hidup yang sedang ia hadapi. Ia sadar, dirinya harus memilih jalan hidup; apa tetap tenggelam dalam kerasnya dunia preman, atau bangkit menjadi prajurit.

Dengan restu kedua orang tuanya, Untung kembali mencoba untuk ketiga kalinya. Kali ini perjuangannya membuahkan hasil. Ia diterima sebagai prajurit TNI AD, dengan pangkat Prada setelah lulus pendidikan tamtama.

Sejak mengenakan seragam loreng, hidup Untung berubah total. Ia yang dulu keras di jalanan mulai ditempa disiplin militer. Energi dan keberaniannya yang dulu dipakai untuk bertahan hidup di terminal kini diarahkan untuk tugas negara.

Untung dikenal sebagai prajurit yang loyal, ulet dan pantang mengeluh. Ia selalu antusias menjalankan tugas-tugas berat. Ketangguhannya membuat kariernya terus menanjak.

Kemampuan dan dedikasinya akhirnya membawanya masuk ke satuan elite TNI AD, yakni Komando Pasukan Khusus. Masuk Kopassus bukan perkara mudah. Hanya prajurit terbaik yang mampu melewati latihan keras, pendidikan dan disiplin tinggi pasukan baret merah.

Di lingkungan Kopassus, Untung semakin matang sebagai prajurit. Ia menjalani berbagai tugas dengan penuh kebanggaan, meski pada masa itu gaji tentara masih sangat kecil. Baginya, kehormatan sebagai prajurit jauh lebih berharga daripada kehidupan jalanan yang pernah ia jalani.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Saat hendak melamar kekasihnya, ia pernah ditolak calon mertua karena dianggap belum mapan. Mahar yang diminta terlalu besar untuk ukuran gajinya saat itu. Namun penolakan itu justru menjadi cambuk untuk bekerja lebih keras dan membuktikan dirinya.

Waktu berjalan. Dari seorang prajurit berpangkat Prada, Untung terus meniti karier militer dengan penuh kegigihan. Ia mengalami kenaikan pangkat hingga 17 kali dan akhirnya mencapai pangkat Letnan Kolonel (Letkol).

Kisah hidupnya kemudian diabadikan dalam buku Kopassus untuk Indonesia pada bab berjudul “Pilihan Hidup: Jadi Bajingan atau Tentara.” Judul itu menggambarkan betapa hidup Untung benar-benar berada di titik persimpangan yang tajam.

Dari terminal yang keras di Semarang hingga menjadi perwira menengah Kopassus, perjalanan Untung Pranoto menjadi bukti bahwa masa lalu seseorang tidak selalu menentukan masa depannya. Preman terminal yang dulu dipandang sebelah mata itu akhirnya berdiri tegak sebagai prajurit elite yang dihormati.

*Dirangkum dari berbagai sumber*

,💥Seorang ibu muda asal Rusia, Lada Koroleva, menjadi sorotan dunia setelah foto-fotonya viral di media sosial. Dalam ga...
24/05/2026

,💥Seorang ibu muda asal Rusia, Lada Koroleva, menjadi sorotan dunia setelah foto-fotonya viral di media sosial. Dalam gambar tersebut, ia terlihat mengantarkan makanan sambil membawa dua anaknya yang masih kecil. Pada usia 19 tahun, Lada tampak berjuang di tengah kesibukan Moscow Metro, dengan tas pengiriman di punggung, satu anak di kereta dorong, dan satu lainnya dalam gendongan.

✨Kisahnya menyentuh hati jutaan orang sebagai gambaran nyata pengorbanan seorang ibu demi keluarga. Menghadapi keterbatasan ekonomi serta kurangnya akses penitipan anak, Lada memilih membawa kedua anaknya saat bekerja daripada meninggalkan mereka tanpa pengawasan. Aksinya ini membuatnya dijuluki “Ibu Pengiriman” oleh warganet, sekaligus memicu empati luas dari berbagai kalangan.

SC: unggahan profil Lada KorolevaTT, Ig,Tweeet

Kisah luar biasa ini datang dari sosok Edoardo Agnelli, putra mahkota tunggal dari Gianni Agnelli yang merupakan bos bes...
24/05/2026

Kisah luar biasa ini datang dari sosok Edoardo Agnelli, putra mahkota tunggal dari Gianni Agnelli yang merupakan bos besar sekaligus pemilik kerajaan bisnis mobil Fiat di Italia. Sebagai calon pewaris utama, Edoardo hidup bergelimang harta dan disiapkan secara khusus untuk memimpin perusahaan raksasa bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.

Namun, jalan hidupnya berubah drastis pada tahun 1974. Saat sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat pada usia 20 tahun, Edoardo iseng berjalan jalan ke sebuah perpustakaan di New York. Mata dan hatinya tertuju pada sebuah buku yang kebetulan ada di rak, yaitu kitab suci Al Quran dengan terjemahan bahasa Inggris. Karena penasaran, ia mulai membaca halaman demi halaman. Edoardo terkesima dan meyakini bahwa makna serta struktur kalimat di dalam buku tersebut tidak mungkin dikarang oleh manusia biasa. Tanpa paksaan dari siapapun, ia langsung mencari keberadaan Islamic Center di New York dan resmi mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Keputusannya memeluk agama Islam memicu kemarahan besar dari pihak keluarga. Sang ayah sangat murka dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa kerajaan bisnis bersejarah milik keluarganya akan diwariskan kepada seorang penganut agama Islam. Edoardo kemudian terus ditekan, diancam, dan dibujuk dengan berbagai kemewahan dunia agar mau meninggalkan keyakinan barunya, namun ia tetap menolak keras dan memilih mempertahankan iman Islamnya.

Akibat keteguhan hatinya tersebut, Edoardo akhirnya menerima konsekuensi yang paling menyakitkan. Ia secara sepihak dicoret dari daftar ahli waris, dijauhkan dari pusaran keluarga besarnya, dan seluruh hak kekayaannya dialihkan kepada sepupunya. Sang pangeran Fiat ini rela menukar seluruh harta duniawinya demi kedamaian batin. Kisah perjuangan imannya berakhir tragis sekaligus penuh misteri ketika ia ditemukan meninggal dunia di bawah jembatan di Italia pada tahun 2000. Meski telah tiada, kisah keteguhan tauhid Edoardo Agnelli tetap dikenang abadi oleh dunia sebagai salah satu pengorbanan harta terbesar demi mempertahankan keimanan.

Bagaimana Afghanistan bisa bertahan 5 tahun menghadapi sanksi berat AS, pembekuan aset dan berbagai keterbatasan lain?Af...
20/05/2026

Bagaimana Afghanistan bisa bertahan 5 tahun menghadapi sanksi berat AS, pembekuan aset dan berbagai keterbatasan lain?

Afghanistan adalah sebuah negara Muslim yang mampu struggle di bawah berbagai tekanan Barat, demi mempertahankan tradisi mereka.

Padahal keadaan pemerintah IEA sangat sulit saat baru mengambil alih negara dari rezim sebelumnya. Buruk seburuk-buruknya.

1. Kondisi kas kosong karena uang dibawa kabur keluar negeri oleh pejabat korup.

2. Gaji pegawai ditelantarkan rezim lama, nunggak berbulan-bulan karena kas untuk menggaji ikut digondol.

3. Ekonomi rakyat bergantung pada barang haram yaitu o***m.

4. Sekitar 5% penduduk menjadi pecandu obat-obatan terlarang.

5. Aset di luar negeri dirampok oleh Joe Biden.

6. Tidak bisa transfer atau menerima transfer. Membuat kegiatan ekspor impor penuh resiko serta biaya tambahan.

7. Kelaparan dimana-mana, tiap tahun ratusan orang tewas akibat musim dingin.

Namun satu per satu masalah Afghan tersebut bisa dipecahkan oleh pemerintah. Dan hebatnya lagi mereka melakukan itu dalam pembiayaannya tanpa menarik pajak dari rakyat.

Caranya adalah sebagai berikut:

1. Sebelum menguasai seluruh Afghan pejuang bisa menghasilkan pendanaan tahunan 400 juta Dollar dari zakat dan penjualan mineral ke negara tetangga. Maka setelah menguasai seluruh Afghan IEA sanggup menggandakan pendapatan tersebut. Mereka mampu mengumpulkan anggaran 800 juta - 1 miliar Dollar.

2. Pendapatan dari pajak hanya di sektor ekspor dan impor, yaitu 0,3% dari perdagangan di atas 20 ribu Dollar. Kecil sekali.

3. Tapi dana yang terbatas bisa berdampak besar karena korupsi sudah dibabat habis dalam waktu satu minggu.

4. Pejabat tinggi negara gajinya kecil, level menteri sekitar 300-400 Dollar. Itupun dibayar setengah sebagai komitmen lebih mengutamakan menggaji pegawai kecil.

5. Aparat keamanan hanya digaji seadanya tapi dicukupi kebutuhan makan minimalnya.

6. Rapat dan pengadilan resmi digelar dengan sangat sederhana. Rapat bisa lesehan dengan hidangan kacang. Pengadilan resmi bisa digelar di emperan masjid atau di tanah lapang. Yang penting stempelnya resmi dan berjalan adil transparan, soal fasilitas menyesuaikan.

7. Jangan mengusik negara tetangga, karena dari tetangga ini adalah jalur suplai. Tetangga juga adalah calon pembeli mineral. Calon investor. Serta jalur kirim uang cash tanpa lewat sistem bank AS. Karena itulah China bisa masuk mulus ke Afghanistan.

8. Membasmi O***m yang sudah mengakar selama puluhan tahun hanya lewat dekrit Ulama dan dilaksanakan dalam waktu 1 tahun. Tujuannya agar mendapat kepercayaan internasional.

9. Kaderisasi yang kuat. Menjadi aparat negara adalah pengabdian kepada Allah dan untuk menegakkan agama. Makanya yang niatnya bengkok pasti tersingkir.

10. Keamanan dijamin secara serius. Laporan apapun diterima, termasuk catcalling terhadap wanita, pelakunya bisa dirotan di tempat.

Dengan berbagai kebijakan tersebut pemerintah IEA sukses bertahan tanpa gejolak berarti. Mata uang kuat. Proyek-proyek diresmikan. Perbaikan jalan dilakukan. O***m dibasmi, pecandu direhabilitasi. Pertumbuhan ekonomi selalu hijau. Korban akibat musim dingin diminimalisir. Utang minim.

Walau masih kurang di sana sini, namun Afghanistan telah membuktikan bahwa dengan memegang prinsip dan kesederhanaan, mereka akan ditolong oleh Allah.

---------------
Jika ada rezeki berlebih dan punya niat berqurban tahun ini, Afghanistan adalah negara yang layak menerima hadiah qurban itu.
Mereka sangat berkomitmen terhadap Islam, ramah, dan rendah hati.

1 Kambing 30-35 kg di Afghanistan cuma Rp 3,5 juta saja.

Donasi Qurban:
BSI 7800-000-615
A.N. Yayasan Little Project

Konfirmasi:
wa.me/6285923400002
Nama - Nama Ortu - Jumlah - Tujuan qurban

Dulu Menjadi Mualaf, Mantan Bos JNE Ini Kini Gunakan Harta Kekayaannya Demi Bangun 99 Masjid! Kisahnya Menggetarkan Hati...
19/05/2026

Dulu Menjadi Mualaf, Mantan Bos JNE Ini Kini Gunakan Harta Kekayaannya Demi Bangun 99 Masjid! Kisahnya Menggetarkan Hati

Di dunia yang sering kali mengukur kesuksesan dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan, kisah hidup Djohari Zein hadir bagai oase yang menyejukkan. Namanya mungkin tidak selalu menghiasi jagat hiburan, namun karya dan visinya melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu pendiri (co-founder) sekaligus mantan Direktur Utama JNE (Jalur Nugraha Ekakurir), ia adalah sosok di balik raksasa logistik yang mengantarkan jutaan paket ke seluruh penjuru nusantara.

Namun, di balik kegemilangan bisnisnya yang bernilai triliunan rupiah, ada sebuah perjalanan spiritual teramat indah yang menggetarkan hati. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang menemukan cahaya Islam, membuktikan keajaiban sedekah, dan kini memilih "menghabiskan" sisa usianya demi mengejar proyek akhirat.

Titik Balik Spiritual Sang Pencari Kebenaran
Lahir di kota Medan, Sumatra Utara, pada 16 April 1954, Djohari Zein tumbuh dalam keluarga keturunan Tionghoa yang kental dengan etos kerja keras dan dunia dagang. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keyakinan Buddha. Sebagai pribadi yang gemar belajar dan berpikiran terbuka, Djohari muda selalu tertarik untuk memahami makna hidup yang lebih mendalam.

Pencarian spiritual itu akhirnya menemui pelabuhan terakhirnya pada tahun 1982. Di usia yang masih relatif muda, Djohari membulatkan tekad untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk agama Islam (mualaf).

Bagi Djohari, menjadi seorang muslim bukan sekadar mengganti status di kolom KTP. Islam mengubah total cara pandangnya terhadap duniawi, terutama mengenai harta. Ajaran tentang zakat, sedekah, dan kewajiban menyayangi anak yatim meresap kuat ke dalam dadanya. Nilai-nilai suci inilah yang kelak ia suntikkan menjadi fondasi dan budaya kerja utama di perusahaan yang ia nakhodai.

Membuktikan Rumus Langit: The Power of Giving
Setelah sempat meniti karier di dunia perhotelan dan perusahaan logistik multinasional, momentum besar dalam hidupnya terjadi pada 26 November 1990. Bersama mendiang Soeprapto Suparno (pendiri TIKI), Djohari mendirikan JNE. Awalnya, perusahaan ini merangkak dari bawah dengan modal seadanya dan hanya fokus pada pengiriman internasional.

Ujian hebat datang saat Badai Krisis Moneter 1998 menghantam Indonesia. Ketika ratusan perusahaan bertumbangan dan gulung tikar, Djohari justru melakukan gebrakan di luar logika bisnis barat. Ia menerapkan manajemen spiritual yang ia sebut sebagai "The Power of Giving" (Keajaiban Memberi).

JNE secara konsisten menyisihkan sebagian keuntungan perusahaan untuk menyantuni ribuan anak yatim, janda, dan kaum duafa. JNE juga membuka pintu kemitraan selebar-lebarnya bagi masyarakat yang terkena PHK agar bisa membuka agen pengiriman di rumah mereka sendiri.

Secara logika matematika manusia, membagikan uang di tengah krisis mungkin dianggap merugi. Namun, bagi Djohari, itu adalah investasi dengan Tuhan. Hasilnya luar biasa: JNE tidak hanya selamat dari kebangkrutan, tetapi justru bertumbuh raksasa, merevolusi pasar domestik, hingga akhirnya menjadi tulang punggung utama meledaknya industri e-commerce di tanah air.

Pensiun di Puncak Kejayaan Demi Menjemput Cita-Cita Mulia
Setelah puluhan tahun memeras keringat dan berhasil membawa JNE ke puncak kasta tertinggi industri logistik Indonesia, Djohari Zein mengambil keputusan besar. Di saat posisinya berada di atas angin, ia memilih untuk pensiun dari operasional harian perusahaan dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada generasi muda.

Namun, masa tuanya tidak dihabiskan untuk sekadar menikmati kemewahan atau bersenang-senang. Lewat lembaga filantropi yang ia dirikan, Johari Zein Foundation, ia mengalihkan seluruh fokus hidupnya untuk misi kemanusiaan.

Satu cita-citanya yang paling fenomenal dan berhasil menyentuh hati jutaan netizen adalah impian agungnya untuk membangun 99 masjid di berbagai wilayah di Indonesia dan belahan dunia.

Angka 99 ini secara khusus diambil dari jumlah Asmaul Husna (nama-nama baik Allah). Baginya, harta melimpah yang didapatkannya dari kesuksesan JNE adalah murni titipan dari Allah SWT. Dan tidak ada cara terbaik untuk memperlakukan titipan tersebut selain mengembalikannya dalam bentuk fasilitas ibadah yang bermanfaat bagi umat muslim.

Sebuah Teladan yang Menampar Hati
Kisah perjalanan hidup Djohari Zein memberikan tamparan halus sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua yang hidup di zaman modern yang serbamatrialistis ini. Beliau adalah bukti nyata bahwa berbisnis dengan melibatkan Tuhan tidak akan pernah membawa kerugian.

Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati tidak dihitung dari seberapa banyak uang yang berhasil kita timbun di dalam rekening pribadi, melainkan dari seberapa banyak aliran manfaat, kebaikan, dan rumah ibadah yang bisa kita tinggalkan untuk generasi mendatang sebelum raga ini kembali ke tanah.

Dari seorang pencari kebenaran hingga menjadi pembangun rumah Allah, kisah mualaf Djohari Zein akan selalu menggetarkan hati dan menginspirasi siapa saja yang merindukan keberkahan hidup yang sesungguhnya.

Sumber: Wikipedia

PEREMPUAN INI MENGUBAH KURIKULUM UNIVERSITAS AL-AZHAR MESIR, PADAHAL IA TAK PERNAH MENGENYAM SEKOLAH DASAR SEHARI PUNAda...
19/05/2026

PEREMPUAN INI MENGUBAH KURIKULUM UNIVERSITAS AL-AZHAR MESIR, PADAHAL IA TAK PERNAH MENGENYAM SEKOLAH DASAR SEHARI PUN

Ada nama yang seharusnya kita hafal seperti kita hafal nama Kartini. Tapi entah mengapa, ia lebih sering tersimpan di halaman buku sejarah daripada di percakapan kita sehari-hari.

Namanya Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah.

Ia lahir pada 29 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, sebagai bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Syekh Muhammad Yunus, adalah ulama dan qadi di Nagari Pandai Sikek. Dari kecil hingga dewasa, Rahmah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Tapi jangan salah tafsir. Tidak sekolah tidak berarti tidak belajar.

Ilmu ia serap dari keluarga, dari ulama sekitar, dan dari kakak sulungnya, Zainuddin Labay El Yunusy, pendiri Diniyah School, sekolah modern Islam yang berdiri sejak 1915. Rahmah sempat belajar di sekolah kakaknya itu, namun ia tidak puas dengan sistem koedukasi yang mencampurkan pelajar putra dan putri dalam satu kelas. Rasa tidak puas itulah yang kemudian mengubah sejarah.

Ia lanjutkan belajarnya di Surau Jembatan Besi bersama Syekh Abdul Karim Amrullah, ayah dari Buya Hamka, mendalami fikih, tasawuf, tauhid, dan sejarah Islam. Di tengah jalan, ia sempat dinikahkan. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Dan sejak saat itu, Rahmah semakin bulat tekadnya.

Pada tanggal 1 November 1923, berdirilah Diniyah School Puteri di Masjid Pasar Usang, Padang Panjang. Murid pertamanya berjumlah 71 orang dan sebagian besar merupakan ibu-ibu muda. Di sinilah perempuan belajar agama, ilmu umum, dan keterampilan hidup, semua dalam satu atap, untuk pertama kalinya di Indonesia.

Dua tahun kemudian, ia membuka Sekolah Menyesal, sebuah program khusus untuk ibu-ibu yang belum bisa membaca dan menulis. Rasuna Said, yang kelak dikenal sebagai Singa Podium, pernah menjadi murid di Diniyah School dan kemudian menjadi asisten pengajar di sekolah putri Rahmah pada tahun 1923.

Rahmah tidak hanya mengajar di dalam kelas. Ia turun ke jalan, ke forum-forum, ke rapat-rapat kaum ibu. Belanda sampai mendenda dirinya karena memimpin rapat umum perempuan di Padang Panjang. Ia bayar denda itu, lalu terus bergerak.

Saat perang kemerdekaan, ia memelopori berdirinya Tentara Keamanan Rakyat di Padang Panjang, mengerahkan murid-muridnya, dan menjadikan Diniyah Putri sebagai dapur umum untuk memasok perbekalan, obat-obatan, bahkan membantu pengadaan senjata bagi para pejuang.

Harga perjuangan itu tidak murah. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II, Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan dijebloskan ke tahanan, melewatkan tiga bulan sebagai tahanan rumah di Padang dan lima bulan sebagai tahanan kota.

Namun kisah paling menakjubkan datang bukan dari dalam negeri, melainkan dari Kairo.

Pada tahun 1955, para petinggi Universitas Al-Azhar Mesir mengunjungi Padang Panjang dan melihat langsung cara Diniyah Putri beroperasi. Mereka terinspirasi. Dua tahun kemudian, Rahmah diundang ke Mesir. Universitas Al-Azhar menganugerahinya gelar kehormatan "Syaikhah", gelar yang belum pernah diberikan kepada perempuan sebelumnya. Keberadaan Diniyah Putri bahkan menginspirasi Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan.

Perempuan dari Padang Panjang yang tak pernah duduk di bangku sekolah dasar, berhasil mengubah kurikulum universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.

Pada tahun 2025, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Pengakuan yang terlambat, tapi tidak pernah terlambat untuk kita kenang.

Rahmah El Yunusiyah meninggal pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang, dan dimakamkan di sisi barat asrama Diniyah Putri, sekolah yang ia dirikan dengan tangan sendiri.

Ia tidak menunggu izin dari siapapun. Ia hanya tahu satu hal: perempuan yang terdidik adalah pondasi peradaban. Dan ia membuktikannya.

Di balik deretan pohon kelapa di sebuah desa sederhana, ada seorang remaja bernama Danil yang menjalani hidup jauh lebih...
17/05/2026

Di balik deretan pohon kelapa di sebuah desa sederhana, ada seorang remaja bernama Danil yang menjalani hidup jauh lebih berat dibanding anak seusianya. Baru berumur 17 tahun, namun ia sudah harus menggantikan peran orang tua bagi dua adik perempuannya sejak sang ayah dan ibu meninggal dunia.
Hari-hari Danil dimulai saat banyak orang masih terlelap. Sebelum subuh, ia sudah sibuk memasak makanan sederhana dan menyiapkan kebutuhan sekolah kedua adiknya. Setelah itu, ia berangkat bekerja memanjat pohon kelapa milik warga demi mendapatkan upah untuk bertahan hidup.

Pekerjaan itu tidak mudah. Tangannya penuh luk4, tubuhnya sering kelelahan, bahkan beberapa kali ia hampir j4tuh saat memanjat pohon yang tinggi. Tetapi Danil tidak pernah menyerah. Setiap kali merasa lemah, ia teringat alasan kenapa ia harus tetap kuat — kedua adiknya yang masih membutuhkan dirinya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Danil selalu mengutamakan pendidikan adik-adiknya. Malam hari sep**ang kerja, ia masih meluangkan waktu menemani mereka belajar. Dengan senyum kecil ia sering berkata, “Abang ingin kalian punya masa depan yang lebih baik.”
Danil sendiri rela mengorbankan banyak hal. Ia tidak memikirkan pakaian baru atau makanan enak untuk dirinya. Yang terpenting baginya hanyalah melihat kedua adiknya tetap sekolah, tetap makan, dan tetap punya harapan untuk masa depan.
Perjuangan Danil membuat banyak warga desa merasa haru. Di usia yang masih sangat muda, ia belajar menjadi tulang punggung keluarga dengan penuh ketulusan. Dari kisahnya, banyak orang belajar bahwa kasih sayang dan tanggung jawab bisa membuat seseorang menjadi luar biasa kuat.
Karena terkadang, orang yang paling lelah justru adalah mereka yang paling banyak berjuang demi orang yang mereka sayangi. 🥀

Satu Tanda Tangan, Matinya Kedaulatan Sains: Kisah Sang Penjaga DNA Indonesia​Nama Herawati Sudoyo mungkin tidak menghia...
16/05/2026

Satu Tanda Tangan, Matinya Kedaulatan Sains: Kisah Sang Penjaga DNA Indonesia

​Nama Herawati Sudoyo mungkin tidak menghiasi baliho politik atau mengisi panggung selebritas. Namun, di dalam laboratorium yang sunyi, ia adalah salah satu otak paling cemerlang yang pernah dimiliki Indonesia. Di tangan dinginnya, Indonesia bukan sekadar penonton dalam kemajuan teknologi genetika, melainkan pemain kunci di panggung dunia.

​Melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati dan timnya melakukan hal yang dulu dianggap mustahil oleh banyak orang: Membaca jejak dari puing-puing kematian.

​Sains Sebagai Perisai Bangsa

​Saat tragedi Bom Bali 2002 dan Pengeboman Kedutaan Besar Australia 2004 mengguncang nurani dunia, para ilmuwan Eijkman bekerja dalam senyap. Di tengah tumpukan serpihan tubuh yang nyaris tak lagi dikenali, mereka melihat jejak DNA.

​Di saat negara lain masih bergantung pada bantuan laboratorium asing, Herawati membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu mengungkap identitas pelaku dan korban dengan presisi kelas dunia. Eijkman bukan sekadar kantor; ia adalah benteng pertahanan ilmiah, simbol bahwa Indonesia memiliki kedaulatan sains yang mandiri dan disegani di Asia Tenggara.

​Ironi di Balik Meja Birokrasi

​Namun, kecemerlangan puluhan tahun itu mendadak menemui jalan buntu pada tahun 2022. Sebuah kebijakan restrukturisasi nasional melebur Eijkman ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

​Alih-alih menjadi suntikan energi baru, transisi ini justru menjadi "musim dingin" bagi para peneliti. Ironi pun tercipta: Orang-orang yang membantu negara mengungkap kasus terorisme internasional, justru tak mampu menyelamatkan rumah risetnya sendiri dari keputusan administratif.

​Para ilmuwan yang menghabiskan hidupnya membedah genom manusia dan melacak mutasi virus, tiba-tiba dipaksa berhadapan dengan tembok birokrasi yang dingin. Laboratorium yang telah dibangun dengan keringat dan dedikasi bertahun-tahun berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian status dan administrasi yang kaku.

​Menghancurkan Lebih Mudah daripada Membangun

​Kisah Herawati Sudoyo dan Eijkman adalah potret muram tentang bagaimana ilmu pengetahuan sering kali harus mengalah pada sistem yang terlalu sibuk mengurus jabatan dan prosedur.

​Dunia sains mengingatkan kita pada satu kebenaran pahit:

​Membangun ilmuwan kelas dunia membutuhkan waktu puluhan tahun. Tetapi menghancurkan ekosistemnya, kadang hanya butuh satu tanda tangan.

​Kini, pertanyaannya tetap sama: Apakah kita akan terus membiarkan kecerdasan bangsa tergerus oleh kakunya birokrasi, ataukah kita akan mulai menghargai bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh angka di atas kertas, tetapi oleh DNA pengetahuan yang kita jaga?

Address

Tambelangan, Sampang, Jawa Rimur
Sampang
69253

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KISAH Inspiratif DUNIA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category