23/07/2026
Cerita Horor Part 2
πππ
Teror Sang Penggerek Buah Kakao (PBK)
Malam turun perlahan di sebuah kebun kakao yang berada di lereng perbukitan. Angin berembus pelan, membuat daun-daun kakao bergesekan seperti bisikan yang tak ingin didengar siapa pun.
Para petani desa mempunyai sebuah pantangan: jangan pernah masuk ke kebun kakao saat tengah malam di musim panen.
Konon, pada saat itulah Sang PBK muncul.
Bukan sekadar ngengat kecil biasa, melainkan sosok misterius yang tak kasat mata. Ia datang tanpa suara, meninggalkan jejak berupa buah kakao yang tampak sehat dari luar, tetapi ketika dibelah... isinya telah berubah menjadi hitam, lengket, dan penuh ulat kecil yang menggeliat.
Pak Rahman, seorang petani yang terkenal berani, menertawakan cerita itu.
"Itu cuma serangga biasa," katanya.
Suatu malam ia memutuskan memeriksa kebunnya seorang diri. Saat jam menunjukkan pukul dua belas tepat, terdengar suara aneh...
Krek... krek... krek...
Seolah ada seseorang menggores kulit buah kakao satu per satu.
Pak Rahman menyalakan senter.
Tak ada siapa-siapa.
Namun puluhan buah kakao bergoyang sendiri.
Lalu terdengar suara kepakan sayap yang sangat pelan... semakin dekat... semakin banyak... hingga seluruh kebun dipenuhi bayangan kecil beterbangan.
Esok paginya, hampir seluruh buah kakaonya terserang Penggerek Buah Kakao (PBK). Buah-buah menguning sebelum waktunya, bijinya saling melekat, kualitas panen hancur, dan hasil kebun turun drastis.
Sejak saat itu, warga desa percaya bahwa Sang PBK bukan sekadar hama, tetapi roh keserakahan yang datang kepada kebun yang diabaikan.
Orang tua desa berkata,
Β«"PBK tidak menyukai kebun yang bersih, rajin dipanen, dan dirawat. Ia mencari kebun yang dipenuhi buah tua, gulma, dan pemilik yang lalai."Β»
Sejak malam itu, tak ada lagi yang berani mengabaikan sanitasi kebun. Buah yang terserang segera dipetik dan dimusnahkan, panen dilakukan tepat waktu, pemangkasan rutin dikerjakan, dan perangkap dipasang di setiap sudut kebun.
Karena mereka sadar...
Yang paling mengerikan bukanlah sosok yang terlihat di malam hari.
Melainkan makhluk kecil yang diam-diam menghancurkan seluruh harapan petani dari dalam buah kakao.
Dan hingga kini, ketika angin malam bertiup melewati kebun kakao, masih terdengar suara lirih...
Krek... krek... krek...
Entah suara ranting yang patah...
Atau Sang PBK yang sedang mencari kebun berikutnya.