23/08/2025
Kudengar dari Koran Indigo Petani Varietas sebelah sedang tidak baik
Sumber : https://www.facebook.com/share/p/1CKji2UVon/
Tata Niaga
Pasar yang mestinya berdenyut dengan riuh transaksi, tiba-tiba mendadak sepi. Bukan karena konsumen tak lagi butuh barang, melainkan karena jalur utama distribusi konon sudah dibendung oleh segelintir “pemain besar” yang merasa berhak atas hak hidup seluruh ekosistem pasar. Proyek pengadaan, yang sejatinya menjadi urat nadi bagi para pemasok kecil, kini berubah menjadi tembok tinggi yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang memiliki akses, jaringan, dan tentu saja, kepentingan.
Bayangkan, semua saluran sudah dijaring rapi. Para penangkar kecil yang awalnya percaya diri dengan hasil kerja kerasnya, kini seperti terjebak dalam jebakan tikus—diumpan janji, tapi akhirnya dipaksa menjual murah. Pasar pun pura-pura sepi, seolah kebutuhan tak ada, padahal konsumsi tetap berjalan. Skenario ini mirip teater murahan yang dipentaskan berulang-ulang: harga ditekan, suplai dibiarkan panik, lalu dipaksa banting harga. Dan begitu harga ambruk, muncullah sang “pemain” sebagai pahlawan kesiangan, memborong barang dengan wajah penuh iba—padahal sebelumnya dialah biang keladi yang menutup keran pasar.
Ironisnya, praktik seperti ini kerap dianggap sekadar strategi bisnis biasa. Padahal, di balik permainan harga, ada rantai penghidupan para penangkar kecil yang porak-poranda. Di satu sisi, mereka dipaksa untuk tunduk pada mekanisme yang tak pernah mereka sepakati; di sisi lain, mereka dijadikan kambing hitam atas “kekacauan pasar” yang justru direkayasa. Sungguh satir: yang menjerat sekaligus yang menyelamatkan adalah orang yang sama.
Dan lucunya lagi, jika kasus semacam ini benar-benar naik ke permukaan, dampaknya bisa melebar ke mana-mana. Salah satu efek domino yang mungkin terjadi adalah penertiban para penangkar tak berizin—sebuah langkah yang tampak heroik di mata publik, tetapi sejatinya hanyalah pintu masuk baru bagi kepentingan lain. Mereka yang tak punya akses legal formal akan dipinggirkan, sementara para pemain besar semakin leluasa bermain tanpa gangguan. Jadi, bukan soal pasar yang sehat atau tidak, melainkan soal siapa yang paling pandai mengatur panggung dan memainkan peran.
Akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa pasar bukan lagi arena jual-beli yang adil, melainkan sebuah sandiwara dengan naskah yang sudah ditulis jauh sebelum para penonton datang. Para penangkar kecil hanyalah figuran yang siap disingkirkan kapan saja, sementara aktor utamanya tetap sama: mereka yang mampu membendung, memborong, dan sekaligus mendikte harga.