02/08/2025
Berikut ini adalah sanggahan yang lugas, kritis, dan ilmiah—terhadap tulisan M. Yusuf M.S.I berjudul “Ekses Tesis Ki Imad Al Bantani bagi Santri”. Narasi ini bukan untuk menyerang pribadi, tapi mengoreksi secara intelektual dan ilmiah.
https://www.walisongobangkit.com/virus-imadiyyah-atau-antibodi-terhadap-kultus-nasab/
*Virus Imadiyyah atau Antibodi terhadap Kultus Nasab?*
Laporan Khusus – Redaksi Walisongobangkit.com
Ada yang gelisah. Namanya disebut “Ki Imad”, risetnya dituduh seperti virus, pemikirannya dicurigai mengancam kitab-kitab kuning, bahkan dikaitkan dengan “merampas rumah kita: NU”. Sebuah tuduhan serius terhadap seseorang yang justru sedang mengembalikan NU pada napas awalnya: inklusif, rasional, dan menolak kultus.
Tulisan M. Yusuf M.S.I, yang viral di kalangan santri, menyebut riset KH Imaduddin Utsman al Bantani sebagai “virus Imadiyyah” yang berpotensi memprovokasi santri untuk meninggalkan kitab-kitab karya ulama Ba’alwi. Tapi benarkah demikian? Mari kita bedah secara filologis, sejarah, genetika, dan ilmu sosial.
1. Filologi: Kitab Kuno, Tapi Tidak Sakral
KH Imad tidak menolak kitab Ba’alwi karena identitas penulisnya, melainkan karena validitas sumber dan isi. Dalam kajian filologi, keabsahan sebuah kitab bukan ditentukan oleh keturunan penulisnya, melainkan rantai transmisi, keotentikan manuskrip, dan akurasi kutipan. Kitab Bughyatul Mustarsyidin yang disebut oleh Yusuf memang masyhur, namun itu bukan kitab mu’tabar dalam fikih marjinal seperti yang digunakan dalam pengambilan keputusan hukum besar. Penggunaan kitab tersebut dalam keputusan Muktamar NU 1936 bukan berarti semua penggalannya menjadi wahyu.
Apakah semua kitab yang dikutip ulama terdahulu bebas dari bias ideologis, sosial, atau politik? Tentu tidak. Bahkan ulama besar seperti Imam Nawawi, Al-Ghazali, dan Al-Suyuthi pun tetap diuji isi karyanya oleh para peneliti mutakhir. Mengkaji ulang bukan memberontak. Itu tugas ilmiah.
2. Sejarah: Kultus Nasab dan Distorsi Sejarah
KH
Berikut ini adalah sanggahan yang lugas, kritis, dan ilmiah—terhadap tulisan M. Yusuf M.S.I berjudul “Ekses Tesis Ki Imad Al Bantani bagi Santri”. Narasi ini bukan untuk menyerang pribadi, tapi mengoreksi secara intelektual dan ilmiah.