Habib Dobolowi

Directions

Habib Dobolowi Selama masih ada Habib ngaku cucu Nabi Muhammad tanpa bukti, kita berjuang

12/10/2025
PENDUDUK YAMAN YANG DI MAKSUD NABI SAW ITU ADALAH PENDUDUK KOTA SANA'A , KOTA AL JUNDU ,KOTA ZABID, DAN KOTA ADEN DAN TA...
13/08/2025

PENDUDUK YAMAN YANG DI MAKSUD NABI SAW ITU ADALAH PENDUDUK KOTA SANA'A , KOTA AL JUNDU ,KOTA ZABID, DAN KOTA ADEN
DAN TAK PERNAH DISEBUT KOTA TARIM (KARENA TARIM DIMASA NABI SAW BUKAN BAGIAN DARI YAMAN)

Disebutkan dalam catatan sejarah
raja Sassaniyah, Khosrow II (590–628), yang bertujuan untuk mengusir Kerajaan Aksum dari Yaman dan mengamankan wilayah perbatasan Persia dari serangan Romawi dan Bizantium . Setelah wafatnya Khosrau II pada tahun 628, gubernur Persia di Arabia Selatan, Badzan , masuk Islam dan Yaman pun mengikuti agama baru tersebut.
Kota2 yang disebutkan oleh Nabi SAW terkait Yaman dan Gubernur yang langsung di angkat oleh Nabi SAW
- Kota Sana'a Yaman ( Gubernurnya Badzan Bin Sassan RA)
- Kota Al Jundu Yaman (Gubernurnya
Mu’adz bin Jabal RA)
- Kota Zabid dan kota ADEN (Gubernurnya Abu Musa)
ada Gubernur Kota Tarim atau Gubernur Kota Hadramaut karena di masa Nabi SAW wilayah Tarim / Hadramaut tersebut bukan bagian dari Wilayah Yaman dimana para Gubernur2nya langsung di angkat oleh Nabi SAW

Beliau Nabi Muhamad SAW mengutus enam orang dalam satu hari, di bulan Muharram tahun ke tujuh hijriyah. Orang yang pertama diutus oleh beliau adalah Amer bin Umaiyah adh Dhamari ra. Dia diutus kepada Raja Najasyi, raja Habasyah (Ethiopia). Nabi SAW juga mengutus Dihyah bin Khalifah al Kalbi ra. kepada Kaisar Heraklius, penguasa Romawi dan mengutus Abdullah bin Hudzafah As Sahmi ra. kepada Kisra Persia.

Selanjutnya, Rasulullah SAW juga mengutus Hathib bin Abu Balta’ah ke Muqauqis, Raja Iskandaria dan pembesar al Qibthi (Kristen Koptik). Syuja’ bin Wahab Al Asadi diutus ke al Harts bin Abu Syamar Al Ghassani, Raja al Balqa’ (Damaskus) sedangkan Salith bin Amer ra. diutus ke Hudzah bin Ali Al Hanafi, pembesar Yamamah. Para enam utusan ini adalah orang-orang yang diutus Rasulullah SAW dalam satu hari.

Selain enam orang itu, beliau SAW juga mengutus beberapa orang lainnya, antara lain mengutus Amr bin Al Ash ra. ke Jaifar dan Abed, dua putera Al Jalandi

Berikut ini adalah sanggahan  yang lugas, kritis, dan ilmiah—terhadap tulisan M. Yusuf M.S.I berjudul “Ekses Tesis Ki Im...
02/08/2025

Berikut ini adalah sanggahan yang lugas, kritis, dan ilmiah—terhadap tulisan M. Yusuf M.S.I berjudul “Ekses Tesis Ki Imad Al Bantani bagi Santri”. Narasi ini bukan untuk menyerang pribadi, tapi mengoreksi secara intelektual dan ilmiah.

https://www.walisongobangkit.com/virus-imadiyyah-atau-antibodi-terhadap-kultus-nasab/

*Virus Imadiyyah atau Antibodi terhadap Kultus Nasab?*

Laporan Khusus – Redaksi Walisongobangkit.com

Ada yang gelisah. Namanya disebut “Ki Imad”, risetnya dituduh seperti virus, pemikirannya dicurigai mengancam kitab-kitab kuning, bahkan dikaitkan dengan “merampas rumah kita: NU”. Sebuah tuduhan serius terhadap seseorang yang justru sedang mengembalikan NU pada napas awalnya: inklusif, rasional, dan menolak kultus.

Tulisan M. Yusuf M.S.I, yang viral di kalangan santri, menyebut riset KH Imaduddin Utsman al Bantani sebagai “virus Imadiyyah” yang berpotensi memprovokasi santri untuk meninggalkan kitab-kitab karya ulama Ba’alwi. Tapi benarkah demikian? Mari kita bedah secara filologis, sejarah, genetika, dan ilmu sosial.

1. Filologi: Kitab Kuno, Tapi Tidak Sakral
KH Imad tidak menolak kitab Ba’alwi karena identitas penulisnya, melainkan karena validitas sumber dan isi. Dalam kajian filologi, keabsahan sebuah kitab bukan ditentukan oleh keturunan penulisnya, melainkan rantai transmisi, keotentikan manuskrip, dan akurasi kutipan. Kitab Bughyatul Mustarsyidin yang disebut oleh Yusuf memang masyhur, namun itu bukan kitab mu’tabar dalam fikih marjinal seperti yang digunakan dalam pengambilan keputusan hukum besar. Penggunaan kitab tersebut dalam keputusan Muktamar NU 1936 bukan berarti semua penggalannya menjadi wahyu.

Apakah semua kitab yang dikutip ulama terdahulu bebas dari bias ideologis, sosial, atau politik? Tentu tidak. Bahkan ulama besar seperti Imam Nawawi, Al-Ghazali, dan Al-Suyuthi pun tetap diuji isi karyanya oleh para peneliti mutakhir. Mengkaji ulang bukan memberontak. Itu tugas ilmiah.

2. Sejarah: Kultus Nasab dan Distorsi Sejarah
KH

Berikut ini adalah sanggahan yang lugas, kritis, dan ilmiah—terhadap tulisan M. Yusuf M.S.I berjudul “Ekses Tesis Ki Imad Al Bantani bagi Santri”. Narasi ini bukan untuk menyerang pribadi, tapi mengoreksi secara intelektual dan ilmiah.

🧠 *Jawaban Ilmiah atas Opini politis KH Zahro Wardi: Menyelesaikan Polemik Nasab Ba'alwi*https://www.walisongobangkit.co...
31/07/2025

🧠 *Jawaban Ilmiah atas Opini politis KH Zahro Wardi: Menyelesaikan Polemik Nasab Ba'alwi*

https://www.walisongobangkit.com/jawaban-ilmiah-atas-opini-politis-kh-zahro-wardi-menyelesaikan-polemik-nasab-baalwi/

🔹 *1. Nasab bukanlah perkara perdata-politik, tapi masalah ilmiah yang dapat diuji secara akademik dan saintifik*

Penulis opini menyamakan polemik nasab Ba‘alwi dengan delik pidana atau perdata yang seolah hanya dapat diselesaikan di pengadilan atau fatwa negara. Ini adalah logical fallacy—penyesatan logika.

🔍 *Faktanya:*
Nasab adalah ranah akademik, yang bisa diuji melalui disiplin filologi, historiografi, dan genetika.

Keabsahan nasab bukan ditentukan oleh pengadilan negara atau kekuasaan politik, tetapi oleh ilmu dan bukti ilmiah.

📚 *Referensi:*
- Prof. Dr. Manachem Ali (Filolog Universitas Airlangga): menegaskan bahwa tidak ada bukti tekstual dan manuskrip yang dapat dijadikan dasar valid nasab Alwi bin Ubaidillah ke Imam Ja’far ash-Shadiq.

- KH Imaduddin Utsman al Bantani: meneliti naskah-naskah klasik dan menemukan bahwa nama "Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir" tidak pernah disebut dalam sanad resmi Syi’ah maupun Ahlus Sunnah hingga abad ke-4 H.

🔹 *2. Penyelesaian via negara bukan jalan ilmiah, tapi jalan kompromistis yang mengaburkan kebenaran*

Penulis menyerukan agar pemerintah turun tangan sebagai "wasit" dalam polemik nasab Ba’alwi. Ini mengabaikan bahwa perkara ilmiah tidak bisa diselesaikan dengan kekuasaan, melainkan dengan metode ilmiah yang terstandar secara internasional.

🔍 *Faktanya:*
Pemerintah bukan otoritas keilmuan dalam hal sejarah, nasab, dan genetik.

Pemerintah hanya bisa memfasilitasi diskursus, bukan memutuskan kebenaran ilmiah.

📚 *Referensi:*
UNESCO menyatakan bahwa sejarah dan warisan budaya harus ditangani berdasarkan scientific objectivity, bukan tekanan politik.

International Society of Genetic Genealogy (ISOGG) memverifikasi bahwa nasab keturunan bisa diuji melalui Y-DNA secara obyektif.

🔹 *3. Ilmu Genetika: Bu

Penulis opini menyamakan polemik nasab Ba‘alwi dengan delik pidana atau perdata yang seolah hanya dapat diselesaikan di pengadilan atau fatwa negara. Ini adalah logical fallacy—penyesatan logika.

Address

Yogyakarta
Panjatan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Habib Dobolowi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category