20/05/2024
Part 4.
Pagi masih menyisakan hawa dingin,
Kabut menutupi sebagian jalan di sudut kelokan
Embun menggantung diujung ilalang yang sedikit bergoyang,
Sayup_sayup suara burung menemani teduhnya hutan di belakang rumah.
Emak nampak sibuk memilih dan melipat baju lalu dimasukan ke dalam ransel,
Beberapa sarung serta kopiah emak tumpuk bersama pakaian lain nya.
Ransel itu nampak berat, meski tak seberat beban bathin yag emak rasakan sa'at ini.
Aku mondar mandir membereskan rumah, serta menyiapkan sarapan pagi ini,
Ada beberapa lembar daun pisang yang aku ambil di belakang rumah, untuk membungkus nasi dan lauk yang akan di bawa bapak nanti.
Yaaa , bapak akan pergi merantau
Yang entah dimana aku kurang memahami
Hanya yang kutau bapak akan merantau jauh, memetik kopi, begitu kata emak.
*________________
Aku menyapu halaman depan rumah, banyak sekali daun kering dari pohon nangka yang berguguran, tahun ini adalah musim panas dan paceklik yang sangat panjang,
Berbeda dari tahun-tahun kemaren yang hanya beberapa bulan saja.
Ku lihat kang nas berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda kesayangan nya,
Aku sengaja bersembunyi dibalik pohon nangka, malu karena tak berangkat sekolah hari ini.
Sekolahan kami cukup jauh,
Dan jika berangkat sekolah kami harus berjalan kaki melewati jembatan yang panjang,
Desa kami desa terpencil di apit dua sungai.
Aku, kang nas dan kawan_kawan lainya sering berangkat bersama,
Meski kang nas mempunyai sepeda dia jarang sekali menggunakan nya dan memilih berangkat dengan kami dengan berjalan kaki bersama.
Di sela perjalanan p**ang sekolah, tak jarang kami mampir kerumah penduduk sekitar
Hanya untuk meminta air minum,
Mencari buah hutan, mencari bunga_bunga di pinggir jalan dll.
Tak lupa kami membuat rencana untuk bermain apa setelah p**ang sekolah.
*_________
"Nurrrr,". Suara emak memanggil terdengar jelas,.
Aku berhenti sejenak dari aktivitas menyapu dan menyandarkan gagang nya dipohon nangka.
Di depan pintu, bapak mencangklong tas ransel, sepeda terjagang di pinggir rumah,
Ada ibu yang menggendong apil,
Aku termenung sejenak sebelum ku langkahkan kaki untuk menemui mereka.
Aku tak berbicara sedikit pun, ku pahami suasana pagi ini, bahwa bapak akan pergi merantau.
Ku lihat mata ibu yang sendu sembab beberapa bulir air matapun jatuh namun dengan cepat ia seka,
Bapak mengelus rambutku seraya berucap
"Baik_baik ya nurr, dirumah sama ibu dan adekmu".
Lalu menggendong apil sebentar
Sebelum kucium punggung tangan bapak
Dan melambai,.
Kami menatap kepergian bapak dengan sedih.
Bapak dan Sepeda tua itu menghilang dari pandangan, bersama Semak rimbun yang menutupi jalanan.
Aku hanya diam mematung sebelum sedetik kulihat ibu dan apil masuk kedalam rumah,
Ibu pasti bersedih, bathin ku.
Next,,,,