20/06/2026
🔥 MASIH YAKIN "BELUM MAKAN" KALAU BELUM MAKAN NASI? 🔥
Pernahkah kalian berpikir, kenapa lidah kita seolah "diwajibkan" untuk mengonsumsi nasi setiap hari? Padahal, tanah Indonesia diberkati dengan kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Sayangnya, sejarah panjang politik penyeragaman pangan telah perlahan mengikis identitas kuliner asli kita .
Mari kita bicara tentang Sagu. Di wilayah Timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, sagu bukan sekadar komoditas. Pohon sagu tumbuh subur secara alami tanpa perlu pupuk atau perawatan rumit. Sagu adalah tiang pancang kehidupan, di mana satu batang pohon yang matang bisa menghidupi satu keluarga selama berbulan-bulan. Lebih dari itu, sagu adalah pusat spiritualitas dan kearifan masyarakat adat dalam menjaga hutan mereka.
Namun, narasi modernitas Orde Baru mengubah segalanya. Demi ambisi "swasembada beras", pemerintah melakukan intervensi hingga ke desa-desa terpencil. Mereka memaksa masyarakat yang secara ekologis lebih cocok menanam sagu, jagung, atau umbi-umbian untuk beralih ke padi. Dampaknya? Hutan-hutan sagu di Papua dibabat habis demi mencetak sawah-sawah baru yang sebenarnya tidak cocok dengan tanah setempat
Yang lebih menyakitkan adalah munculnya stigma sosial. Masyarakat yang mengonsumsi sagu atau pangan lokal lainnya sering dicap sebagai orang miskin, kuno, atau tertinggal. Padahal, sebelum kebijakan ini, tidak ada hierarki status sosial dalam makanan; semua pangan lokal berdiri sama tinggi
Kita kini sadar, ketergantungan pada satu jenis makanan saja justru membuat ketahanan pangan kita rapuh. Saatnya kita merebut kembali kedaulatan pangan dengan menghargai kekayaan lokal kita sendiri.
👇 Bagaimana menurut kalian? Apakah sudah saatnya kita kembali melirik sagu dan pangan lokal lainnya sebagai menu utama, atau kita sudah terlanjur nyaman dengan nasi? Tulis pendapat kalian di kolom komentar yah