Duktelo Go

Duktelo Go Saya seorang Pengajar di SMAN 13 Makassar

11/06/2026

mengaji

11/06/2026
ISLAM DAN FILSAFAT: MEMILAH ANTARA LOGIKA DAN AKIDAHAssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Bapak/Ibu dan Rekan-reka...
09/06/2026

ISLAM DAN FILSAFAT: MEMILAH ANTARA LOGIKA DAN AKIDAH
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bapak/Ibu dan Rekan-rekan sekalian, sebuah pertanyaan mendasar sempat diajukan kepada saya: "Apakah mempelajari filsafat itu bisa membawa pada kesesatan? Bagaimana jika kita mempelajarinya hanya untuk sekadar tahu dan sebagai bahan perbandingan?"
Ini adalah kekhawatiran yang sangat wajar dan patut dihargai. Agar kita diberikan pemahaman dan kejernihan berpikir oleh Allah SWT, mari kita dudukan masalah ini secara objektif berdasarkan dalil Al-Qur'an serta pandangan dua ulama besar dunia Islam: Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
1. DUA DIMENSI FILSAFAT: MANA YANG BOLEH, MANA YANG RAWAN?
Kita harus membedakan filsafat menjadi dua bagian besar:
FILSAFAT SEBAGAI ALAT (Logika/Mantiq):
Ini adalah metode berpikir kritis, runtut, dan sistematis. Menggunakan akal untuk membedakan argumen yang benar dan salah sangat dianjurkan dalam Islam.
FILSAFAT SEBAGAI PRODUK (Metafisika/Isi Pemikiran):
Ini adalah kesimpulan para filsuf (terutama Yunani kuno atau Barat) tentang ketuhanan dan alam semesta yang hanya mengandalkan akal murni tanpa bimbingan wahyu. Bagian inilah yang berpotensi melahirkan kesesatan jika diadopsi mentah-mentah.
2. SIKAP DUA ULAMA BESAR: AL-GHAZALI VS IBNU RUSYD
Sejarah mencatat dinamika pemikiran yang luar biasa dari dua otoritas besar ini. Menariknya, keduanya tidak menolak penggunaan akal, melainkan memberikan batasan yang jelas.
A. Imam Al-Ghazali (Metode Penyaringan yang Ketat)
Dalam kitabnya *Tahafut al-Falasifah* (Kerancuan Para Filsuf), beliau mengkritik tajam pemikiran filsafat metafisika yang menyeleweng dari akidah. Namun, beliau tidak melarang ilmu logikanya
Pandangan Beliau: Mempelajari filsafat untuk perbandingan atau membantah kesesatan hukumnya boleh, bahkan bisa menjadi wajib bagi orang yang kapasitas ilmunya mumpuni.
Syarat dari Beliau: Seseorang harus mengokohkan ilmu agama dan akidahnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dunia filsafat, agar tidak terombang-ambing.
B. Ibnu Rusyd (Harmoni Antara Wahyu dan Akal)
Melalui kitabnya *Fashl al-Maqal* (Perkataan Pemutus), beliau menjembatani hubungan agama dan filsafat.
Pandangan Beliau: Antara kebenaran wahyu dan kebenaran akal yang sehat tidak akan pernah bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT. Beliau mengibaratkan agama dan filsafat seperti "dua saudara sepersusuan".
3. LANDASAN AYAT AL-QUR'AN (HUJJAH)
Sebagai dasar hukum dan perbandingan, Al-Qur'an memberikan panduan kapan akal dipuji dan kapan akal bisa tersesat tanpa wahyu:
Ayat tentang Perintah Berpikir secara Filosofis/Logis:
Allah SWT mengkritik orang yang tidak mau menggunakan akal logisnya untuk merenungkan alam:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?(QS. Al-Ghasyiyah: 17-18)

Ibnu Rusyd menggunakan ayat-ayat sejenis ini sebagai argumen bahwa Islam justru mewajibkan manusia menggunakan nalar dan observasi (yang merupakan inti dari filsafat) untuk mengenal Sang Pencipta.
Ayat tentang Batasan Akal Manusia:
Namun, Allah mengingatkan bahwa akal manusia memiliki batas, terutama jika berbicara tentang hal gaib (metafisika) tanpa wahyu: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'.(QS. Al-Isra': 85)

Imam Al-Ghazali menekankan ayat ini sebagai pembatas. Ketika akal mencoba memutus urusan ketuhanan atau alam gaib tanpa bimbingan Al-Qur'an, di situlah filsafat menjadi jalan kesesatan.
KESIMPULAN (UNTUK JAWABAN KITA)
Mempelajari filsafat HANYA UNTUK MENGETAHUI DAN SEBAGAI BAHAN PERBANDINGAN
adalah hal yang diperbolehkan dan bermanfaat, dengan catatan:
1. Niatnya benar: Bukan untuk mencari kebenaran baru di luar Islam, melainkan untuk memahami peta pemikiran manusia agar kita bisa mendakwahkan Islam dengan argumen yang lebih kontekstual dan logis.
2. Ibarat Belajar Ilmu Racun:
Kita mempelajari karakteristik racun bukan untuk meminumnya, melainkan agar tahu bagaimana cara meracik obat penawarnya jika ada umat yang terpapar syubhat (keraguan).
3. Penyaring Utama: Menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai Furqan* (penyaring utama). Apa yang sejalan dengan Islam dari filsafat (seperti kedisiplinan logika) kita ambil, dan apa yang bertentangan dengan akidah kita buang jauh-jauh.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati dan pikiran kita, menganugerahkan *hikmah* (pemahaman yang dalam), serta menjaga keteguhan akidah kita dan keluarga. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

09/06/2026
09/06/2026
07/06/2026

Ajeng

07/06/2026
07/06/2026
07/06/2026
07/06/2026

Address

Jalan Gusung Rama No. 10 Maccini Sombala Tamalate
Makassar
90224

Telephone

+6285395220354

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Duktelo Go posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Duktelo Go:

Share

Category