17/07/2026
*Jangan Salah Melihat*
Ada kebiasaan yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari hidup banyak orang.
Baru bangun tidur, tangan lebih dahulu mencari telepon genggam.
Di sela-sela pekerjaan, membuka media sosial.
Saat menunggu, membuka media sosial.
Saat makan, membuka media sosial.
Menjelang tidur, kembali membuka media sosial.
Seolah-olah, tidak ada satu pun waktu yang boleh terlewat tanpa melihat layar.
Hari demi hari berlalu.
Ratusan foto dilihat.
Puluhan video ditonton.
Berbagai kisah kehidupan orang lain memenuhi pikiran.
Ada yang baru membeli rumah.
Ada yang baru meraih jabatan.
Ada yang baru membuka usaha.
Ada yang baru berlibur.
Ada yang baru menikah.
Ada yang baru menunaikan umrah.
Ada p**a yang tampak selalu bahagia.
Hari demi hari, semua itu terus memenuhi layar dan pikiran kita.
Tanpa kita sadari...
Yang berubah bukan hanya isi layar di tangan kita.
*_Cara kita memandang kehidupan pun perlahan ikut berubah._*
Sedikit demi sedikit, kita mulai belajar tentang bahagia dari apa yang kita lihat.
Belajar tentang sukses dari apa yang kita lihat.
Belajar tentang kaya dari apa yang kita lihat.
Bahkan belajar tentang kehidupan yang dianggap ideal dari apa yang kita lihat.
Padahal, manusia mudah sekali meniru apa yang sering ia lihat.
Akhirnya, kita mulai merasa hidup orang lain selalu lebih baik.
Rumah mereka tampak lebih indah.
Rezeki mereka tampak lebih lapang.
Keluarga mereka tampak lebih bahagia.
Sementara hidup kita terasa biasa-biasa saja.
*_Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan-potongan kecil dari kehidupan mereka, bukan seluruh kenyataannya._*
Yang lebih berbahaya, kita mulai mengukur nikmat Allah yang ada pada diri kita dengan apa yang tampak di layar orang lain.
Di sinilah rasa syukur perlahan memudar.
Dan ketika syukur memudar, nikmat sebesar apa pun akan terasa kurang.
Jauh sebelum media sosial memenuhi kehidupan manusia, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan obat bagi penyakit hati ini. Beliau bersabda,
«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»
_"Pandanglah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah memandang orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah Dia berikan kepada kalian."_ (HR. Muslim)
Perhatikanlah...
Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ke mana mata kita memandang.
Beliau sedang menjaga arah pandangan hati kita.
Karena apa yang sering kita lihat akan memengaruhi apa yang kita kagumi.
Dan apa yang kita kagumi perlahan akan memengaruhi arah kehidupan kita.
Media sosial bukanlah musuh.
Namun jangan biarkan algoritma lebih banyak membentuk cara pandangmu daripada Al-Qur'an dan Sunnah.
Sebab hati diciptakan untuk mengenal nikmat Allah, bukan untuk terus membandingkannya dengan kehidupan manusia.
📖 *Pelajaran:*
- Apa yang sering kita lihat akan memengaruhi cara kita memandang kehidupan.
- Hati yang terus membandingkan dirinya dengan orang lain akan sulit merasakan manisnya syukur.
- Gunakan media sosial sebagai sarana mengambil manfaat, bukan sebagai ukuran kebahagiaan dan keberhasilan hidup.
🤍 *Renungan:*
Setiap hari kita melihat begitu banyak hal.
Namun, sudahkah kita bertanya...
Apakah semua yang kita lihat semakin mendekatkan hati kepada Allah, atau justru membuat kita semakin sibuk membandingkan diri dengan manusia?
_Minasa Upa, 25 Muharram 1448 H_
📚 *Buletin Dakwah Madrasah Sunnah*
Ikuti saluran BULETIN MADROSAH SUNNAH di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbCClbtJZg49FUfwUL2A
Ikuti saluran “✍️Catatan Islam Sunnah” di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbBab7iKGGG8uAu0mv2O