17/04/2026
SMAN 1 Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat resmi mengumumkan penundaan sementara distribusi program Makan Bergizi Gratis atau MBG kepada pelajarnya. Para guru dan staf tak mau lagi terlibat pendistribusian MBG karena memicu fitnah dari warga khususnya orang tua murid.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui surat bernomor 043/TU.01.02/SMANSAC yang ditujukan kepada orang tua siswa, siswa/siswi, serta masyarakat di lingkungan sekolah. Surat tersebut diunggah ke publik melalui akun facebook resmi sekolah.
Kepala SMAN 1 Ciemas, Ramdan Sutana Hadi yang bertanda tangan dalam surat tersebut, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah munculnya tudingan dari sejumlah orang tua siswa yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Penundaan ini salah satunya dipicu adanya fitnah dari orang tua siswa yang menyebut jatah MBG milik siswa yang tidak masuk sekolah diambil oleh guru,” ujar Ramdan kepada Sukabumiupdate com, Kamis (9/4/2026).
Ia menegaskan, tuduhan tersebut tidak benar. Menurutnya, pihak sekolah justru memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak hadir untuk tetap mengambil jatah makanan hingga batas waktu tertentu.
“Guru menunggu sampai jam kerja. Siapa tahu siswa yang tidak masuk ada yang datang untuk mengambil. Jadi tidak benar kalau makanan itu diambil oleh guru,” tegasnya
Selain persoalan tersebut, Ramdan menyebut pola distribusi MBG selama ini juga membebani tugas utama tenaga pendidik dan staf tata usaha (TU). Pasalnya, proses pembagian makanan masih dilakukan oleh guru dan staf sekolah.
Selama ini omprengan dari dapur dibagikan ke siswa oleh guru atau staf. Cukup menyita waktu dan tenaga, sehingga tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mereka menjadi kurang optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun terdapat petugas penanggung jawab atau PIC MBG di sekolah yang ditunjuk dan dibiayai oleh penyedia program MBG, tugas mereka sebatas melakukan pengecekan jumlah serta kualitas makanan.
PIC MBG itu hanya memastikan jumlah dan kualitas makanan. Untuk pembagian tetap dilakukan oleh guru atau staf sekolah,” ungkap Ramdan.