06/05/2026
Pada Minggu (3/5/2026) sekitar pukul 16.50 WIB, sebuah peristiwa terjadi di JI. Kodam Raya, RT 09/RW 07, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Salah satu Warung Madura mendadak berubah menjadi arena perusakan setelah kedatangan seorang pria (pelaku tak dikenal) yang berniat melakukan transaksi tarik tunai.
Keributan ini dipicu oleh hal yang sebenarnya sangat lumrah dalam dunia transaksi digital di warung kelontong.
- Pelaku datang ke warung untuk melakukan tarik tunai melalui sistem QRIS senilai Rp 26.000.
Seperti aturan pada umumnya, pihak warung menerapkan biaya administrasi standar untuk layanan tersebut.
Bukannya memaklumi, pelaku justru menolak keras aturan tersebut.
- Ia bersikeras dan memaksa penjaga warung agar transaksinya diproses secara utuh tanpa ada potongan biaya admin sepeser pun.
Penolakan dari pihak warung yang tetap berpegang pada aturan memicu emosi pelaku hingga tak terkendali.
- Gagal memaksakan kehendaknya, pelaku yang telanjur emosi langsung melakukan tindak kekerasan terhadap istri dari penjaga warung.
Sang suami yang melihat istrinya dianiaya tentu tak tinggal diam.
Namun nahas, saat bermaksud melerai keributan tersebut, ia justru ikut menjadi sasaran pukulan sang pelaku yang sedang kalap.
Puas melakukan kekerasan fisik, amarah pria tersebut rupanya belum reda.
- Ia kemudian melampiaskan emosinya pada barang-barang properti warung.
Pelaku mengobrak-abrik seisi warung dengan beringas.
Barang dagangan dibuat berserakan tak karuan, etalase dihancurkan, hingga kaca kulkas pecah berantakan.
- Dan yang paling mengerikan, pelaku bahkan menggunakan senjata tumpul berupa tabung gas melon (LPG 3 kg) sebagai alat untuk menghancurkan bagian dalam warung, dan menyebabkan kerugian material yang sangat parah bagi korban.
Mendengar suara teriakan dan pecahan kaca, warga sekitar sempat berdatangan ke lokasi untuk melerai dan menolong mengamankan situasi.
Warga berharap aparat penegak hukum segera mengusut kasus ini, melac