17/10/2026
SEJARAH DAN ASAL-USUL NAMA DISTRIK SAIFI DI KABUPATEN SORONG SELATAN, PROVINSI PAPUA BARAT DAYA
Mengenal Sejarah, Identitas Adat, dan Asal-Usul Nama Saifi dalam Kehidupan Masyarakat Adat Suku Tehit
TEMINABUAN, SORONG SELATAN – PAPUA BARAT DAYA
Distrik Saifi merupakan salah satu wilayah pemerintahan di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. Wilayah ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat, identitas kesukuan, bahasa daerah, serta hubungan kekeluargaan masyarakat yang telah mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun.
Untuk memahami asal-usul nama Saifi, penting membedakan antara sejarah nama adat Saifi dan sejarah pembentukan Distrik Saifi sebagai wilayah pemerintahan.
1. Asal-Usul Nama Saifi
Nama Saifi memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat adat setempat, khususnya kelompok masyarakat yang termasuk dalam rumpun besar Suku Tehit.
Berdasarkan informasi kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat ragam bahasa yang dikenal sebagai Tehit Saifi, selain Tehit Imyan dan bahasa-bahasa lainnya di wilayah Sorong Selatan.
Hal ini menunjukkan bahwa nama Saifi bukan sekadar nama administratif pemerintahan, tetapi juga dikenal dalam identitas kebahasaan masyarakat setempat.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dijelaskan.
Arti harfiah kata "Saifi" dalam bahasa adat setempat belum dapat dipastikan berdasarkan sumber tertulis yang berhasil ditemukan.
Untuk mengetahui apakah nama Saifi berasal dari nama leluhur, tempat bersejarah, wilayah kekuasaan adat, atau istilah tertentu dalam bahasa Tehit, diperlukan penjelasan langsung dari para tetua adat dan pemangku sejarah masyarakat Saifi.
2. Hubungan Saifi dengan Masyarakat Adat Saifi–Yaben
Secara sosial dan budaya, wilayah Distrik Saifi memiliki hubungan dengan beberapa kelompok masyarakat adat yang hidup berdampingan.
Dalam dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai persoalan batas wilayah Kampung Botain, terdapat keterangan mantan Kepala Distrik Saifi, Frengki Ajamsaru, yang menyebutkan tiga kelompok masyarakat adat yang mendiami wilayah Distrik Saifi, yaitu:
Sub-Suku Yaben.
Sub-Suku Saifi.
Sub-Suku Kena.
Keterangan tersebut tercantum dalam dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai wilayah Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Sorong.
Keberadaan kelompok-kelompok adat tersebut memperlihatkan bahwa Saifi merupakan wilayah yang memiliki keberagaman identitas masyarakat adat.
Dalam kehidupan masyarakat, hubungan antarkelompok adat dapat dilihat melalui sistem kekerabatan, perkawinan adat, penguasaan tanah ulayat, penggunaan bahasa, serta penyelenggaraan musyawarah adat.
Oleh karena itu, sejarah Saifi tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat adat yang mendiami wilayah tersebut.
3. Sejarah Pembentukan Distrik Saifi
Sebelum menjadi distrik tersendiri, wilayah Saifi merupakan bagian dari struktur pemerintahan yang mengalami beberapa perubahan administratif.
Berdasarkan dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi, pembentukan Distrik Saifi berkaitan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sorong Selatan Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pembentukan Distrik.
Dokumen tersebut menjelaskan bahwa Distrik Saifi dibentuk melalui pemekaran wilayah pemerintahan.
Dalam salah satu keterangan persidangan, disebutkan bahwa Distrik Saifi didefinitifkan pada 23 Desember 2009.
Dengan demikian, perlu dibedakan antara dua sejarah penting:
Pertama, sejarah adat Saifi, yaitu sejarah keberadaan masyarakat, tanah ulayat, bahasa, dan identitas budaya sebelum terbentuknya pemerintahan distrik.
Kedua, sejarah administratif Distrik Saifi, yaitu proses pembentukan wilayah pemerintahan melalui kebijakan pemekaran daerah.
Kedua sejarah tersebut saling berkaitan, tetapi tidak selalu memiliki titik awal yang sama.
4. Kampung-Kampung dalam Wilayah Adat Saifi
Dalam perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat, Distrik Saifi dikenal memiliki sejumlah kampung, antara lain:
Kampung Manggroholo.
Kampung Komanggaret.
Kampung Sayal.
Kampung Kayabo.
Kampung Botaen atau Botain.
Kampung Sisir.
Kampung Knaya atau Kenaya.
Kampung Sira.
Kampung Mlaswat.
Kampung Kwowok.
Daftar tersebut mencerminkan kampung-kampung yang tercatat dalam berbagai sumber mengenai wilayah Saifi. Namun, status administratif Kampung Botain pernah menjadi persoalan batas wilayah antara Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.
Masing-masing kampung memiliki sejarah asal-usul, hubungan kekerabatan, serta identitas masyarakat adat yang penting untuk didokumentasikan.
5. Makna Nama Saifi bagi Identitas Masyarakat Adat
Walaupun arti harfiah nama Saifi masih memerlukan penelitian sejarah lisan, nama tersebut memiliki nilai penting bagi identitas masyarakat.
Nama Saifi dapat dipahami dalam beberapa konteks.
A. Identitas masyarakat adat
Saifi merupakan nama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat adat yang memiliki sejarah dan hubungan turun-temurun dengan wilayahnya.
B. Identitas wilayah
Nama Saifi digunakan sebagai nama distrik dalam struktur pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan.
C. Identitas bahasa dan budaya
Keberadaan ragam bahasa Tehit Saifi menunjukkan hubungan nama Saifi dengan kekayaan bahasa masyarakat setempat.
D. Identitas persatuan
Dalam konteks kehidupan masyarakat Saifi–Yaben, nama Saifi juga dapat menjadi simbol kebersamaan untuk menjaga hubungan kekeluargaan, adat istiadat, serta tanah warisan leluhur.
6. Pentingnya Menelusuri Sejarah Saifi Berdasarkan Penuturan Tetua Adat
Sejarah masyarakat adat Papua tidak seluruhnya tercatat dalam dokumen pemerintahan.
Sebagian besar sejarah diwariskan melalui cerita lisan dari orang tua kepada anak-anak dan generasi berikutnya.
Karena itu, penelusuran asal-usul nama Saifi sebaiknya melibatkan para tetua adat, kepala keret atau marga, tokoh masyarakat, serta pemangku adat Saifi–Yaben.
Penelitian sejarah tersebut perlu menjawab beberapa pertanyaan mendasar:
Apa arti sebenarnya kata Saifi dalam bahasa asli masyarakat adat?
Siapa leluhur pertama yang menggunakan nama Saifi?
Apakah Saifi merupakan nama tempat, nama leluhur, atau nama kelompok masyarakat?
Bagaimana hubungan sejarah antara masyarakat adat Saifi, Yaben, dan Kna atau Kena?
Bagaimana batas-batas wilayah adat Saifi ditetapkan oleh para leluhur?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat penting untuk menyusun sejarah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi mendatang.
7. Kesimp**an
Berdasarkan informasi sejarah, kebahasaan, dan dokumen pemerintahan yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa:
Nama Saifi memiliki hubungan dengan identitas masyarakat adat dan bahasa lokal yang telah dikenal di wilayah Sorong Selatan.
Nama tersebut kemudian digunakan sebagai nama salah satu distrik dalam struktur pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan.
Namun, sejarah pembentukan distrik tidak otomatis menjelaskan asal-usul kata Saifi. Penjelasan mengenai makna asli nama tersebut masih membutuhkan keterangan dari para tetua adat.
Dengan demikian, sejarah Saifi perlu ditulis melalui perpaduan antara dokumen pemerintahan, penelitian bahasa, dan sejarah lisan masyarakat adat.
Pesan untuk Generasi Muda Saifi–Yaben
Sejarah suatu wilayah bukan hanya tentang nama tempat dan batas pemerintahan, tetapi juga tentang perjalanan leluhur, identitas masyarakat, hubungan kekeluargaan, serta tanggung jawab menjaga tanah adat bagi generasi mendatang.
Saifi–Yaben Bersatu, Adat Tetap Kuat, Tanah Adat Tetap Terjaga.
Saya ingin menanyakan satu hal penting:
Menurut cerita orang tua adat di Kampung Manggroholo, Komanggaret, Sayal, Kayabo, Botaen, Sisir, dan Knaya, apakah nama "SAIFI" berasal dari nama seorang leluhur, nama tempat, atau memiliki arti khusus dalam bahasa adat?
Saya menanyakan ini karena saya ingin membantu menyusun sejarah asli asal-usul nama Saifi dan Yaben berdasarkan perspektif masyarakat adat, mulai dari zaman leluhur hingga terbentuknya Distrik Saifi di Kabupaten Sorong Selatan.
Dengan keterangan tersebut, kita dapat menyusun tulisan sejarah yang lebih lengkap, tanpa mencampurkan fakta sejarah dengan dugaan.