Sorong Raya Hari Ini

Call Contact the business

Sorong Raya Hari Ini Mempublis Sorong Raya yang akan di kenal oleh Seluruh Dunia
Sorong Adalah Kota Minyak
Sorong Bersama

23/10/2026

SELATAN HUT GKI KE 70 TAHUN PADA TANGGAL 26 OKTOBER 2026.

YAYASAN MUTIARA HITAM PAPUA SIAP SUKSESKAN FESTIVAL BUDAYA 30 OKTOBER 2026, USUNG KONSEP SEDERHANA NAMUN BERNUANSA INTER...
23/10/2026

YAYASAN MUTIARA HITAM PAPUA SIAP SUKSESKAN FESTIVAL BUDAYA 30 OKTOBER 2026, USUNG KONSEP SEDERHANA NAMUN BERNUANSA INTERNASIONAL

PAPUA, 22 Oktober 2026 – Yayasan Mutiara Hitam Papua menyatakan kesiapan dan dukungannya untuk menyukseskan Festival Budaya yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Papua kepada dunia internasional.

Festival budaya ini mengusung semangat sederhana, tetapi memiliki tujuan besar, terutama dengan rencana kehadiran tamu undangan dari Australia.

Melalui pernyataan dukungannya, Yayasan Mutiara Hitam Papua menekankan bahwa keberhasilan suatu kegiatan tidak semata-mata diukur dari besarnya acara, melainkan dari ketepatan sasaran, manfaat, serta dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat.

"Kami siap sukseskan Festival Budaya skala kecil, namun rasa internasional, karena tamu-tamu kita dari Australia hadir. Skala kecil, tetapi sasaran tembak kena. Jangan bikin skala besar, namun sasaran tembak meleset," demikian pernyataan dukungan yang disampaikan terkait persiapan festival tersebut.

Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa penyelenggaraan festival budaya harus mengutamakan kualitas, tujuan, dan manfaat nyata dibandingkan sekadar kemeriahan acara.

Festival Budaya sebagai Sarana Promosi Identitas Papua

Festival budaya diharapkan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni dan tradisi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan identitas, nilai-nilai adat, serta kearifan lokal masyarakat Papua kepada tamu dari luar negeri.

Kehadiran tamu internasional, khususnya dari Australia, diharapkan dapat membuka peluang pertukaran pengetahuan, penguatan hubungan persahabatan, serta kerja sama dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Yayasan Mutiara Hitam Papua sendiri memiliki pengalaman menjalin kerja sama dengan Black Pearl Network Australia, khususnya dalam pengembangan pendidikan bahasa Inggris d

BREAKING NEWS: Bandara Teminabuan Dipalang Masyarakat Adat, Tuntut Pembayaran Ganti Rugi dan Penyelesaian Tanah UlayatSO...
23/10/2026

BREAKING NEWS: Bandara Teminabuan Dipalang Masyarakat Adat, Tuntut Pembayaran Ganti Rugi dan Penyelesaian Tanah Ulayat

SORONG SELATAN, PAPUA BARAT DAYA – Akses menuju Bandara Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, dilaporkan dipalang oleh masyarakat adat yang mengaku sebagai pemilik hak ulayat pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026.

Aksi pemalangan tersebut berkaitan dengan tuntutan masyarakat adat mengenai penyelesaian persoalan tanah yang digunakan untuk kawasan Bandara Teminabuan.

Berdasarkan informasi yang beredar, masyarakat adat memasang spanduk berisi sejumlah tuntutan, antara lain pembayaran hak atas tanah, penyelesaian ganti rugi, serta pengembalian tanah adat.

Masyarakat Adat Menuntut Kepastian Penyelesaian Hak Ulayat

Aksi pemalangan ini kembali menyoroti persoalan hak atas tanah adat yang menjadi perhatian masyarakat setempat.

Masyarakat adat berharap pihak-pihak terkait dapat memberikan kepastian mengenai penyelesaian tuntutan mereka, khususnya menyangkut status tanah dan kewajiban pembayaran ganti rugi yang dipersoalkan.

Persoalan tanah ulayat merupakan isu penting yang berkaitan dengan pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat atas tanah warisan leluhur.

Aktivitas Bandara Menjadi Perhatian

Pemalangan akses menuju Bandara Teminabuan turut menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan aktivitas dan pelayanan transportasi udara di wilayah tersebut.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi mengenai dampak pemalangan terhadap operasional bandara, termasuk kemungkinan adanya gangguan aktivitas penerbangan.

Belum diketahui p**a apakah telah dilakukan pertemuan atau mediasi antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dan pihak pengelola bandara.

Pemerintah dan Pihak Terkait Diharapkan Memberikan Penjelasan

Persoalan ini membutuhkan perhatian serta komunikasi antara masyarakat adat, Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan, instansi pertanahan, dan pihak pengelola Bandara Teminabuan.

Penyelesaian melalui dialog d

Pemuda Adat Srer dan Organisasi Pemuda Sorong Selatan Gelar Nobar dan Edukasi, Perkuat Solidaritas Menjaga Hak Ulayat Su...
23/10/2026

Pemuda Adat Srer dan Organisasi Pemuda Sorong Selatan Gelar Nobar dan Edukasi, Perkuat Solidaritas Menjaga Hak Ulayat Sungai Sembra

SORONG SELATAN, PAPUA BARAT DAYA – Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer bersama sejumlah organisasi pemuda di Kabupaten Sorong Selatan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar), edukasi lingkungan, dan diskusi bersama masyarakat adat pemilik hak ulayat Sungai Sembra.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertempat di Kampung Persiapan Siwenogin Sembra, Distrik Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat adat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mempertahankan hak-hak ulayat, serta memperkuat solidaritas masyarakat dalam menyikapi rencana masuknya investasi perusahaan air minum dalam kemasan di kawasan Sungai Sembra.

Film Dokumenter Menjadi Sarana Edukasi Lingkungan

Dalam kegiatan tersebut, panitia memutar film dokumenter berjudul Menolak Punah, karya Dandy Laksono dan Aji Yahuti.

Film tersebut mengangkat persoalan ancaman kepunahan ikan-ikan endemik di Sungai Brantas, Jawa Timur, akibat berbagai tekanan terhadap ekosistem sungai.

Pemutaran film ini sengaja dipilih sebagai bahan edukasi bagi masyarakat adat Suku Srer agar dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sungai serta dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Melalui film tersebut, masyarakat diajak melihat bagaimana kerusakan lingkungan dapat mengancam keberlangsungan hidup berbagai jenis ikan dan sumber daya alam yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Persoalan tersebut dinilai relevan dengan situasi yang sedang dihadapi masyarakat adat di wilayah Sungai Sembra, menyusul adanya rencana investasi perusahaan air minum dalam kemasan yang mendapat penolakan dari sebagian pemilik hak ulayat dan pemuda adat setempat.

Darius Sreifi: Solidaritas Pemuda Penting untuk Mempertahankan Hak

PEMUDA ADAT SLOW BAILO DAN PEMILIK HAK ULAYAT SUNGAI SEMBRA TEGAS TOLAK INVESTASI PABRIK AIR KEMASAN, MINTA DUKUNGAN BER...
19/10/2026

PEMUDA ADAT SLOW BAILO DAN PEMILIK HAK ULAYAT SUNGAI SEMBRA TEGAS TOLAK INVESTASI PABRIK AIR KEMASAN, MINTA DUKUNGAN BERBAGAI PIHAK

Marlon Kalilago: “Jangan Tergiur Janji Supermi dan Uang, Mari Rapatkan Barisan Selamatkan Sungai Sembra”

SORONG SELATAN, PAPUA BARAT DAYA | senin, 19 Oktober 2026 – Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer bersama sejumlah pemilik hak ulayat di wilayah hulu Sungai Sembra, Distrik Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan, kembali menyatakan sikap penolakan terhadap rencana masuknya investor perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) yang berencana memanfaatkan sumber air Sungai Sembra.

Penolakan tersebut disampaikan melalui kegiatan jumpa pers yang berlangsung di kawasan hulu Sungai Sembra, senin (19/10/2026).

Dalam kesempatan itu, para pemuda adat dan perwakilan pemilik hak ulayat meminta dukungan berbagai elemen masyarakat, organisasi kepemudaan (OKP) Cipayung, lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan, serta lembaga bantuan hukum (LBH) untuk membantu memperjuangkan perlindungan hak masyarakat adat dan kelestarian Sungai Sembra.

Polemik Investasi Sungai Sembra Berlangsung Sejak 3 Oktober 2026

Persoalan rencana investasi perusahaan air minum dalam kemasan di Sungai Sembra mulai menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan masyarakat pemilik hak ulayat sejak 3 Oktober 2026.

Perbedaan pendapat tersebut muncul ketika pemerintah melalui Kepala Distrik Seremuk memfasilitasi kegiatan sosialisasi rencana investasi di Kantor Kampung Srer.

Dalam pertemuan tersebut, sebagian masyarakat menyatakan dukungan terhadap rencana investasi, sementara kelompok lainnya menyampaikan penolakan karena mengkhawatirkan dampak terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan sumber kehidupan masyarakat adat.

Hingga pertengahan Oktober 2026, perbedaan sikap antara kelompok yang mendukung dan menolak investasi belum menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.

Pada 14 Oktober 2026, sejumlah masyarakat yang menolak investasi menggelar jumpa pers di bantaran Sungai Sembra untuk menyampaikan sikap penolakan.

Sehari kemudian, 15 Oktober 2026, kelompok masyarakat yang mendukung rencana investasi juga mengadakan jumpa pers untuk menyampaikan sikap penerimaan terhadap rencana masuknya perusahaan air kemasan.

Selanjutnya, pada Senin, 19 Oktober 2026, kelompok masyarakat yang menolak investasi kembali menggelar jumpa pers sekaligus menyerukan dukungan berbagai pihak untuk menyelamatkan Sungai Sembra.

Marlon Kalilago Ajak Pemuda Suku Srer Bersatu Menolak Investor

Dalam jumpa pers tersebut, Marlon Kalilago, perwakilan Marga Kalilago, secara tegas mengajak seluruh pemuda adat Suku Srer untuk bersatu dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai tawaran maupun janji yang berkaitan dengan rencana investasi.

Marlon menegaskan bahwa Sungai Sembra merupakan sumber kehidupan masyarakat adat yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Saya mengajak semua pemuda Suku Srer untuk mari sama-sama rapatkan barisan. Jangan dengan rayuan dari siapa pun, jangan tergiur dengan janji Supermi dan uang. Tapi ayo rapatkan barisan untuk kita tolak investor air yang mau kasih rusak Kali Sembra,” tegas Marlon Kalilago.

Menurutnya, kondisi Sungai Sembra yang saat ini masih alami dan memiliki air yang jernih harus tetap dipertahankan.

Ia mengkhawatirkan bahwa aktivitas perusahaan apabila nantinya beroperasi dapat membawa perubahan terhadap kondisi lingkungan dan kualitas air sungai.

“Sekarang Sembra punya air sudah biru, bagus begini. Jangan sampai nanti investor masuk, air sudah berubah warna. Pemerintah dan investor mau datang, kami tidak mau, karena ini bukan pemerintah atau investor punya, tetapi ini kami punya air,” ujarnya.

Pernyataan Marlon tersebut merupakan bentuk penegasan sikap kelompok masyarakat adat yang menolak rencana investasi dan ingin mempertahankan Sungai Sembra sebagai bagian dari wilayah hak ulayat mereka.

Darius Sreifi Minta Dukungan OKP Cipayung, Pemuda Adat dan LSM Lingkungan

Sementara itu, Darius Sreifi, Ketua Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer, secara terbuka meminta dukungan berbagai organisasi kepemudaan, kelompok masyarakat adat, lembaga pemerhati lingkungan, serta lembaga bantuan hukum.

Darius berharap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat adat Suku Srer mendapat perhatian lebih luas, terutama dari pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan hidup.

“Saya meminta bantuan dan dukungan dari teman-teman OKP Cipayung, pemuda adat, serta LSM lingkungan dan semua pihak untuk membantu kami,” ungkap Darius Sreifi.

Permintaan dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo untuk memperluas solidaritas dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat yang menolak rencana investasi.

Pemuda Adat: Suku Srer Hidup dari Kekayaan Alam yang Diberikan Tuhan

Dalam aksi jumpa pers tersebut, sejumlah peserta turut membentangkan pamflet yang berisi pesan penolakan terhadap rencana investasi.

Salah satu pamflet bertuliskan:

“SUKU SRER BUKAN SAJA HIDUP DARI INVESTOR, TETAPI SUKU SRER HIDUP DARI HASIL ALAM YANG SUDAH DISEDIAKAN TUHAN KEPADA KAMI SUKU SRER.”

Tulisan tersebut menggambarkan hubungan masyarakat adat Suku Srer dengan sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka.

Selain itu, terdapat pamflet yang menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap masa depan generasi masyarakat adat apabila Sungai Sembra dikelola oleh pihak investor.

“BAPA KALAU KAMU KASI KALI SEMBRA KEPADA INVESTOR, BIAR HARI INI BAPA BUNUH SAYA SUDAH, KARENA KE DEPAN SAYA PU HIDUP INI AKAN MENDERITA.”

Ungkapan tersebut menjadi simbol keresahan peserta aksi terhadap kemungkinan hilangnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam yang selama ini mereka manfaatkan.

Pamflet lainnya berisi seruan:

“SAYA KETUA PEMUDA ADAT SUKU SRER SLOW BAILO MOHON DUKUNGAN TEMAN-TEMAN OKP CIPAYUNG, PEMUDA ADAT, LSM LINGKUNGAN DAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM.”

Sungai Sembra Bukan Sekadar Sumber Air, tetapi Warisan Leluhur

Bagi masyarakat adat Suku Srer, Sungai Sembra tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas, sejarah, dan kehidupan sosial budaya masyarakat.

Sungai tersebut selama ini menjadi salah satu sumber kebutuhan masyarakat, termasuk untuk memperoleh ikan, udang, serta berbagai hasil alam lainnya.

Kawasan hutan dan bantaran Sungai Sembra juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan berkebun dan berburu secara tradisional.

Selain menjadi sumber kehidupan, Sungai Sembra memiliki potensi wisata alam yang dikenal oleh masyarakat Sorong Selatan.

Oleh karena itu, kelompok pemuda adat dan pemilik hak ulayat yang menolak investasi berharap pemerintah tidak mengambil keputusan secara sepihak tanpa mempertimbangkan aspirasi masyarakat adat.

Mereka menginginkan agar setiap rencana pemanfaatan sumber daya alam di wilayah adat dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan para pemilik hak ulayat serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Seruan Selamatkan Sungai Sembra untuk Generasi Mendatang

Melalui gerakan dan , Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo bersama kelompok pemilik hak ulayat yang menolak investasi mengajak seluruh masyarakat Sorong Selatan untuk ikut memberikan perhatian terhadap masa depan Sungai Sembra.

Mereka berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat bersatu menjaga kelestarian sungai tanpa mengabaikan nilai-nilai persaudaraan dan kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat adat Suku Srer.

Aspirasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi dan investasi perlu memperhatikan perlindungan lingkungan serta hak masyarakat adat sebagai pemilik wilayah ulayat.

Hingga rilis ini disusun, perbedaan pandangan antara kelompok masyarakat yang mendukung dan menolak rencana investasi masih berlangsung.

Belum terdapat keterangan lebih lanjut dalam bahan rilis mengenai hasil kesepakatan bersama, status perizinan perusahaan, maupun keputusan resmi pemerintah daerah terkait kelanjutan rencana investasi tersebut.

“KAMU YANG SUDAH PERNAH MANDI DI SUNGAI SEMBRA, MARI BERSAMA-SAMA SELAMATKAN SEMBRA!”

Seruan ini menjadi pesan perjuangan Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo dan kelompok pemilik hak ulayat yang menginginkan Sungai Sembra tetap lestari sebagai sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan anak cucu pada masa mendatang.

18/10/2026

KKR

17/10/2026
17/10/2026

Ayo yang belum mendaftarkan tim anda silahkan hubungi nomor hp panitia.

17/10/2026

SEJARAH DAN ASAL-USUL NAMA DISTRIK SAIFI DI KABUPATEN SORONG SELATAN, PROVINSI PAPUA BARAT DAYA

Mengenal Sejarah, Identitas Adat, dan Asal-Usul Nama Saifi dalam Kehidupan Masyarakat Adat Suku Tehit

TEMINABUAN, SORONG SELATAN – PAPUA BARAT DAYA

Distrik Saifi merupakan salah satu wilayah pemerintahan di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. Wilayah ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat, identitas kesukuan, bahasa daerah, serta hubungan kekeluargaan masyarakat yang telah mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun.

Untuk memahami asal-usul nama Saifi, penting membedakan antara sejarah nama adat Saifi dan sejarah pembentukan Distrik Saifi sebagai wilayah pemerintahan.

1. Asal-Usul Nama Saifi

Nama Saifi memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat adat setempat, khususnya kelompok masyarakat yang termasuk dalam rumpun besar Suku Tehit.

Berdasarkan informasi kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat ragam bahasa yang dikenal sebagai Tehit Saifi, selain Tehit Imyan dan bahasa-bahasa lainnya di wilayah Sorong Selatan.

Hal ini menunjukkan bahwa nama Saifi bukan sekadar nama administratif pemerintahan, tetapi juga dikenal dalam identitas kebahasaan masyarakat setempat.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dijelaskan.

Arti harfiah kata "Saifi" dalam bahasa adat setempat belum dapat dipastikan berdasarkan sumber tertulis yang berhasil ditemukan.

Untuk mengetahui apakah nama Saifi berasal dari nama leluhur, tempat bersejarah, wilayah kekuasaan adat, atau istilah tertentu dalam bahasa Tehit, diperlukan penjelasan langsung dari para tetua adat dan pemangku sejarah masyarakat Saifi.

2. Hubungan Saifi dengan Masyarakat Adat Saifi–Yaben

Secara sosial dan budaya, wilayah Distrik Saifi memiliki hubungan dengan beberapa kelompok masyarakat adat yang hidup berdampingan.

Dalam dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai persoalan batas wilayah Kampung Botain, terdapat keterangan mantan Kepala Distrik Saifi, Frengki Ajamsaru, yang menyebutkan tiga kelompok masyarakat adat yang mendiami wilayah Distrik Saifi, yaitu:

Sub-Suku Yaben.

Sub-Suku Saifi.

Sub-Suku Kena.

Keterangan tersebut tercantum dalam dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai wilayah Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Sorong.

Keberadaan kelompok-kelompok adat tersebut memperlihatkan bahwa Saifi merupakan wilayah yang memiliki keberagaman identitas masyarakat adat.

Dalam kehidupan masyarakat, hubungan antarkelompok adat dapat dilihat melalui sistem kekerabatan, perkawinan adat, penguasaan tanah ulayat, penggunaan bahasa, serta penyelenggaraan musyawarah adat.

Oleh karena itu, sejarah Saifi tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat adat yang mendiami wilayah tersebut.

3. Sejarah Pembentukan Distrik Saifi

Sebelum menjadi distrik tersendiri, wilayah Saifi merupakan bagian dari struktur pemerintahan yang mengalami beberapa perubahan administratif.

Berdasarkan dokumen persidangan Mahkamah Konstitusi, pembentukan Distrik Saifi berkaitan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sorong Selatan Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pembentukan Distrik.

Dokumen tersebut menjelaskan bahwa Distrik Saifi dibentuk melalui pemekaran wilayah pemerintahan.

Dalam salah satu keterangan persidangan, disebutkan bahwa Distrik Saifi didefinitifkan pada 23 Desember 2009.

Dengan demikian, perlu dibedakan antara dua sejarah penting:

Pertama, sejarah adat Saifi, yaitu sejarah keberadaan masyarakat, tanah ulayat, bahasa, dan identitas budaya sebelum terbentuknya pemerintahan distrik.

Kedua, sejarah administratif Distrik Saifi, yaitu proses pembentukan wilayah pemerintahan melalui kebijakan pemekaran daerah.

Kedua sejarah tersebut saling berkaitan, tetapi tidak selalu memiliki titik awal yang sama.

4. Kampung-Kampung dalam Wilayah Adat Saifi

Dalam perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat, Distrik Saifi dikenal memiliki sejumlah kampung, antara lain:

Kampung Manggroholo.

Kampung Komanggaret.

Kampung Sayal.

Kampung Kayabo.

Kampung Botaen atau Botain.

Kampung Sisir.

Kampung Knaya atau Kenaya.

Kampung Sira.

Kampung Mlaswat.

Kampung Kwowok.

Daftar tersebut mencerminkan kampung-kampung yang tercatat dalam berbagai sumber mengenai wilayah Saifi. Namun, status administratif Kampung Botain pernah menjadi persoalan batas wilayah antara Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.

Masing-masing kampung memiliki sejarah asal-usul, hubungan kekerabatan, serta identitas masyarakat adat yang penting untuk didokumentasikan.

5. Makna Nama Saifi bagi Identitas Masyarakat Adat

Walaupun arti harfiah nama Saifi masih memerlukan penelitian sejarah lisan, nama tersebut memiliki nilai penting bagi identitas masyarakat.

Nama Saifi dapat dipahami dalam beberapa konteks.

A. Identitas masyarakat adat

Saifi merupakan nama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat adat yang memiliki sejarah dan hubungan turun-temurun dengan wilayahnya.

B. Identitas wilayah

Nama Saifi digunakan sebagai nama distrik dalam struktur pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan.

C. Identitas bahasa dan budaya

Keberadaan ragam bahasa Tehit Saifi menunjukkan hubungan nama Saifi dengan kekayaan bahasa masyarakat setempat.

D. Identitas persatuan

Dalam konteks kehidupan masyarakat Saifi–Yaben, nama Saifi juga dapat menjadi simbol kebersamaan untuk menjaga hubungan kekeluargaan, adat istiadat, serta tanah warisan leluhur.

6. Pentingnya Menelusuri Sejarah Saifi Berdasarkan Penuturan Tetua Adat

Sejarah masyarakat adat Papua tidak seluruhnya tercatat dalam dokumen pemerintahan.

Sebagian besar sejarah diwariskan melalui cerita lisan dari orang tua kepada anak-anak dan generasi berikutnya.

Karena itu, penelusuran asal-usul nama Saifi sebaiknya melibatkan para tetua adat, kepala keret atau marga, tokoh masyarakat, serta pemangku adat Saifi–Yaben.

Penelitian sejarah tersebut perlu menjawab beberapa pertanyaan mendasar:

Apa arti sebenarnya kata Saifi dalam bahasa asli masyarakat adat?

Siapa leluhur pertama yang menggunakan nama Saifi?

Apakah Saifi merupakan nama tempat, nama leluhur, atau nama kelompok masyarakat?

Bagaimana hubungan sejarah antara masyarakat adat Saifi, Yaben, dan Kna atau Kena?

Bagaimana batas-batas wilayah adat Saifi ditetapkan oleh para leluhur?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat penting untuk menyusun sejarah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi mendatang.

7. Kesimp**an

Berdasarkan informasi sejarah, kebahasaan, dan dokumen pemerintahan yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa:

Nama Saifi memiliki hubungan dengan identitas masyarakat adat dan bahasa lokal yang telah dikenal di wilayah Sorong Selatan.

Nama tersebut kemudian digunakan sebagai nama salah satu distrik dalam struktur pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan.

Namun, sejarah pembentukan distrik tidak otomatis menjelaskan asal-usul kata Saifi. Penjelasan mengenai makna asli nama tersebut masih membutuhkan keterangan dari para tetua adat.

Dengan demikian, sejarah Saifi perlu ditulis melalui perpaduan antara dokumen pemerintahan, penelitian bahasa, dan sejarah lisan masyarakat adat.

Pesan untuk Generasi Muda Saifi–Yaben

Sejarah suatu wilayah bukan hanya tentang nama tempat dan batas pemerintahan, tetapi juga tentang perjalanan leluhur, identitas masyarakat, hubungan kekeluargaan, serta tanggung jawab menjaga tanah adat bagi generasi mendatang.

Saifi–Yaben Bersatu, Adat Tetap Kuat, Tanah Adat Tetap Terjaga.

Saya ingin menanyakan satu hal penting:

Menurut cerita orang tua adat di Kampung Manggroholo, Komanggaret, Sayal, Kayabo, Botaen, Sisir, dan Knaya, apakah nama "SAIFI" berasal dari nama seorang leluhur, nama tempat, atau memiliki arti khusus dalam bahasa adat?

Saya menanyakan ini karena saya ingin membantu menyusun sejarah asli asal-usul nama Saifi dan Yaben berdasarkan perspektif masyarakat adat, mulai dari zaman leluhur hingga terbentuknya Distrik Saifi di Kabupaten Sorong Selatan.

Dengan keterangan tersebut, kita dapat menyusun tulisan sejarah yang lebih lengkap, tanpa mencampurkan fakta sejarah dengan dugaan.

PEMUDA ADAT SUKU SRER DAN TOKOH MASYARAKAT SUKU OGIT TOLAK RENCANA INVESTASI PERUSAHAAN AIR KEMASAN DI SUNGAI SEMBRASoro...
14/10/2026

PEMUDA ADAT SUKU SRER DAN TOKOH MASYARAKAT SUKU OGIT TOLAK RENCANA INVESTASI PERUSAHAAN AIR KEMASAN DI SUNGAI SEMBRA

Sorong Selatan, Papua Barat Daya – Pemuda Adat Suku Srer bersama tokoh masyarakat adat Suku Ogit dari Kampung Gamaro menyatakan sikap tegas menolak rencana investasi pembangunan perusahaan air minum dalam kemasan yang direncanakan memanfaatkan sumber air Sungai Sembra, Kampung Srer, Distrik Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan melalui jumpa pers yang berlangsung di bantaran Sungai Sembra, Rabu (14/10/2026), sebagai bentuk kepedulian masyarakat adat terhadap perlindungan hak ulayat, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber daya alam Sungai Sembra.

Sungai Sembra Merupakan Sumber Kehidupan Masyarakat Adat

Sungai Sembra dikenal sebagai salah satu kawasan wisata alam air tawar yang memiliki potensi keindahan alam di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya.

Selain memiliki daya tarik wisata, kawasan Sungai Sembra juga menjadi sumber kehidupan masyarakat adat setempat. Sungai tersebut menyediakan berbagai hasil alam, seperti ikan dan udang, serta mendukung aktivitas berkebun dan berburu secara tradisional di sepanjang bantaran sungai.

Bagi masyarakat adat Suku Srer dan Suku Ogit, Sungai Sembra bukan sekadar sumber air, tetapi merupakan bagian penting dari identitas budaya, sejarah leluhur, dan keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

Oleh sebab itu, setiap rencana investasi yang berpotensi memengaruhi kawasan sungai harus mempertimbangkan hak-hak masyarakat adat sebagai pemilik wilayah ulayat.

Pemuda Adat Soroti Sosialisasi Pemerintah pada 3 Oktober 2026

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Pemuda Adat Suku Srer, pemerintah bersama pihak investor sebelumnya telah merencanakan pembangunan perusahaan air minum dalam kemasan yang akan beroperasi di Kabupaten Sorong Selatan.

Perusahaan tersebut disebut-sebut akan memanfaatka

Address

Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya
Hong Kong
98411

Telephone

+85226041732

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sorong Raya Hari Ini posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sorong Raya Hari Ini:

Shortcuts

Share

Category